“Sebagaimana disampaikan oleh Bapak Presiden, keberadaan smelter dengan kapasitas produksi 1,8 juta ton per tahun in akan meningkatkan nilai tambah hingga 14 kali lipat dibandingkan bahan mentah nikel,” jelas Airlangga.
Lebih jauh lagi, lanjutnya, pembangunan smelter nikel ini juga sejalan dengan komitmen pemerintah untuk menghentikan ekspor bijih nikel dan mendorong hilirisasi industri.
Turut hadir dalam kunjungan Presiden hari ini, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.






