NASIONAL

Kisah Yesaya Bayang, Satpam yang Menggagalkan Pengebom Masuk GKI Diponegoro

×

Kisah Yesaya Bayang, Satpam yang Menggagalkan Pengebom Masuk GKI Diponegoro

Sebarkan artikel ini

Pasangan tersebut telah dikaruniai dua anak: Gerrard Cillion, 12, dan Pavel Cillion, 13. ”Papanya anak-anak itu disiplin dan suka berolahraga. Dia sering olahraga bareng anak-anak,” kata Yeni tentang suaminya yang berusia 40 tahun dan berasal dari Alor, Nusa Tenggara Timur, itu.

Sekitar dua jam setelah sang suami berangkat, barulah Yeni mendapat kabar yang merobek hati tersebut. ”Sekitar jam 08.00 dikabarin kalau suami saya kena bom dan dilarikan ke rumah sakit,” katanya.

Bank bjb Tandamata

Di RSAL dr Ramelan Surabaya Yeni mendapati sang suami mengalami luka bakar di kaki dan tangan sebelah kanan serta pipi. Dirawat di instalasi gawat darurat dan hanya boleh dijenguk istri dan anak. Itu pun dibatasi waktunya. ”Semoga suami saya baik-baik saja,” harap perempuan 39 tahun tersebut.

Sekitar semenit setelah ledakan pertama, terdengarlah ledakan kedua. Jemaat di dalam gereja pun panik. Langsung semburat keluar. Mencoba mencari tahu apa yang terjadi. ”Saya kira tadi ban mobil meletus,” kata Octavianus Rewah, salah seorang jemaat.

Saat itu Rewah melihat ada beberapa orang yang tergeletak. Di antaranya seorang berpakaian serbahitam dengan posisi tengkurap. Rewah sebenarnya ingin menolong orang yang hanya terlihat kakinya tersebut.

Namun, tindakan menolong itu dia urungkan. Sebab, dia takut melihat banyak asap yang keluar di sekitar orang yang tergeletak. Teriakan jemaat gereja lain agar tetap berada di dalam ruang gereja juga membuatnya ragu menolong.