Sebelum insiden tragis itu terjadi, awalnya hari Rabu (11/4) itu Ridho dan Bagus masih masuk sekolah seperti biasa. Mereka mengikuti kegiatan belajar mengajar bersama guru di kelas. Hingga akhirnya waktu pelajaran di sekolah usai, Ridho mengajak Bagus bertandang ke rumahnya di Besowo, Kepung, Kediri.
Selain bersekolah di Baron, Nganjuk, Ridho sekaligus mondok di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Falah, Jekek, Baron. Sementara Bagus memang tinggal di sana. “Waktu itu rencananya juga akan ke rumah Amir (bekas temannya kelas VII SMPI namun sudah keluar sekolah).
Setelah itu terus ke rumah saya,” papar Ridho.
Rumah Amir di Desa Menduran, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri. Karena tak punya ongkos, keduanya menumpang truk. Ada tiga truk mereka tumpangi, sampai berhenti di perempatan Badas.
Di sana Ridho dan Bagus turun. Lalu, berkenalan dengan tiga anak jalanan. Mereka adalah HP, 16, DK, 17, dan SW 17. Anak jalanan itu kemudian mengajak menumpang truk trailer ke arah Pare. “Kenalan dengan anak punk, bareng nggandol (menumpang) truk lagi,” ungkap Ridho.
Beberapa saat setelah truk berjalan, HP meminta celana yang dipakai Ridho. Tetapi permintaan ini ditolak. “Celana dipakai kok disuruh melepas, ya saya menolak,” tukasnya.
DK lalu mengancam membunuh jika Ridho tidak menurut. “Dia ngancam,gak mbok wehne mati we (tidak kamu berikan, mati kamu),” kata Ridho menirukan ancaman anak jalanan itu.





