SURABAYA – Penerbangan rute Surabaya-Bawean di Bandara Internasional Juanda kemarin(28/11) dibatalkan. Penyebabnya, roda sebelah kanan pesawat perintis milik PT Airfast Indonesia itu patah. Tidak ada korban jiwa pada peristiwa tersebut. Penerbangan pesawat lainnya juga tidak terganggu.
Pesawat jenis twin otter DHC 6-300 tersebut dijadwalkan berangkat pukul 11.25. Ada delapan orang dalam pesawat itu. Mereka terdiri dari pilot beserta co-pilot, seorang teknisi, dan lima penumpang. Saat keluar dari apron, kondisi pesawat tidak ada masalah.
Selanjutnya, pilot mengarahkan pesawat ke landasan melalui taxiway. Di tengah perjalanan, ban belakang pesawat patah. Laju pesawat berhenti. ”Jadi, pesawat belum masuk runway, posisinya masih di taxiway,” kata Humas Bandara Internasional Juanda Yuristo Ardhi Hanggoro.
Taxiway merupakan jalur pesawat dari apron menuju runway. Dengan begitu, insiden tersebut belum pada posisi lepas landas. ”Runway di Juanda tetap aman dan tidak ada gangguan,” katanya.
Yuristo menerima laporan peristiwa itu sekitar pukul 12.00. Pada jam itu, pesawat seharusnya sudah mendekati Bawean. Sebab, pesawat dijadwalkan terbang pukul 11.25 dan mendarat pukul 12.10.
Penerbangan lalu dibatalkan. Seluruh penumpang dibawa kembali ke terminal I bandara. Petugas lalu mengevakuasi pesawat dan meletakkannya di apron C bandara.
Managing Director PT Airfast Indonesia Arif Wibowo mengatakan, pesawat bermesin ganda jenis Twin Otter DHC 6-300 berhenti di tengah-tengah taxiway N3N. Posisinya tidak menghalangi pergerakan lalu lintas pesawat lain.
Dia memastikan semua orang yang berada di dalam pesawat aman. Tidak ada luka apapun. Selanjutnya PT Airfast Indonesia fokus pada perbaikan pesawat. Arif merinci perangkat yang rusak merupakan roda pendarat di sisi kanan. ”Bagian itu akan diperbaiki,” katanya.
Tidak hanya itu, kata Arif, PT Airfast Indonesia akan mengecek seluruh komponen pesawat tersebut. Hal itu dilakukan untuk memastikan kembali kelaikan dan kelayakan pesawat yang baru saja mengalami kerusakan.
Arif juga menegaskan, manajemen PT Airfast Indonesia selalu berkoordinasi dengan Direktorat Kelaik-Udaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan serta Komite Nasional Keselamatan Transportasi Republik Indonesia (KNKT). Termasuk terkait insiden tersebut. ”Keselamatan penumpang merupakan prioritas kami,” kata Arif.
(lyn/bin/agm)



