IZZUL MUTTAQIN, Banyuputih
Pasca ramai diberitakan di media massa maupun online, Situs Melek yang terletak di Dukuh Melek, Dusun Krajan, Desa Sumberejo, Banyuputih menarik perhatian banyak pihak. Mereka datang langsung ke lokasi untuk melihat tempat yang rusak akibat penambangan pasir ilegal tersebut.
Seperti yang dilakukan puluhan SMAN 1 Asembagus, belum lama ini. Dalam kunjungannya, mereka melakukan aktifitas pendokumentasian dan menyimak pemaparan sejarah dari aktivis cagar budaya ‘Balumbung’.
Yuli Indrawati, guru sejarah yang mendampingi para siswa mengaku sangat bangga atas fakta ditemukannya situs cagar budaya di Kecamatan Banyuputih. “Ternyata di tempat ini ada peningalan sejarah yang cukup besar.
Kemungkinan, fakta ini juga merupakan sejarah awal sebelum perkembangan Islam di Asembagus. Temuan berkas pemukiman menunjukkan suatu peradaban yang menjadi cikal bakal pemukiman di sekitarnya,” ucap Yuli.
Sebagai pendidik, dia berharap kegiatan itu dapat menanamkan rasa cinta terhadap cagar budaya di hati para siswanya. “Dengan mencintai aset sejarah, tentu kerangkanya adalah melestarikan cagar budaya yang kita miliki, khususnya di Situbondo. Jika kunjungan ini dilaksanakan secara intens dan terus menerus. Bisa jadi akan menarik minat sekolah-sekolah lain untuk turut berkunjung,” tambahnya.
Desy Suryanti, salah satu siswi berharap agar di cagar budaya tersebut terdapat fasilitas yang bisa menarik minat pengunjung. “Bagaimana hubungan Dukuh Melek dengan Balumbung, ini harus diteliti. Budayanya juga harus dilestarikan. Situbondo bisa terkenal dengan ikon kota sejarah. Saya sangat setuju bila situs resmi ditetapkan, dibuka jadi tempat wisata, sehingga perlahan, perekonomian di Kabupaten Situbondo akan terangkat,” pungkasnya.



