Irwan Rakhday, aktifis cagar budaya mengaku sangat bersyukur dengan banyaknya pengunjung yang datang ke lokasi situs. Menurutnya hal itu terjadi setelah gencarnya pemberitaan di media. “Para pengunjung hadir karena gencarnya pemberitaan di media. Mereka menjadi tergerak untuk ikut melestarikan cagar budaya dengan cara mengobservasi. Ini hal yang menggembirakan,” terangnya.
Sementara itu, Generasi Sadar Sejarah Situbondo (GESSIT) mengaku sudah memiliki agenda khusus untuk kian meningkatkan kepedulian dan kecintaan para siswa kepada peninggalan cagar budaya. Komunitas ini akan menggandeng Dewan Kesenian Situbondo (DKS), Situbondo Heritage Society serta MGMP Sejarah SMA/MA/SMK se Situbondo.
“Kita akan mengajak siswa-siswi mengadakan kegiatan blusukan situs sejarah se-Situbondo baik dari masa pra aksara, klasik, dan kolonial,” terang aktifis GESSIT, Kholil Budiarto.
Kata dia, komunitasnya ingin memperkenalkan dan menunjukkan bahwa betapa kayanya kabupaten Situbondo dengan peninggalan sejarah dan budaya.
Dia berharap, kegiatan tersebut mampu menggugah dan menanamkan rasa cinta dan bangga terhadap sejarah dan budaya lokal pada setiap generasi yang akan datang. “Kami hanya tidak ingin anak cucu kita nantinya hanya tahu dari buku dan internet. Makanya harus terus kita lestarikan agar mereka dapat melihat langsung fakta dan bukti sejarah tersebut,” ungkapnya. (bw/mls/ics/JPR)



