JAKARTA, RADARSUKABUMI.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutakhirkan data gempa yang mengguncang Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara (Malut). Hingga kini gempa dengan kekuatan 7,2 skala Richter (SR) yang terjadi pada Minggu (14/7) itu mengakibatkan dua orang meninggal dunia. Sementara itu, 2 ribu orang lainnya terpaksa mengungsi. Adapun korban meninggal dunia atas nama Aisyah, warga Desa Gane Luar; dan Halimah, warga Desa Papaceda.
Akibat bencana tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halmahera Selatan menetapkan status darurat bencana hingga tujuh hari ke depan. Tim reaksi cepat BNPB menerjukan pesawat tanpa awak menuju lokasi bencana. “Tim Reaksi Cepat baru sampai di Ternate dan butuh perahu motor untuk menuju lokasi terdampak,” ujar Plh Kepala Pusdatin Humas BNPB Agus Wibowo di Jakarta, Senin (15/7).
Dampak lain dari gempa di Pulau Bacan yakni 58 rumah rusak. Semua rumah rusak tersebar di empat desa. Yakninya Desa Ranga-Ranga, Desa Seketa, Desa Dolik, dan Desa Kluting. Pihak BNPB masih terus mencoba memperbarui informasi. Dikhawatirkan masih ada korban yang terisolasi lantaran dua jembatan putus akibat gempa. “Besar kemungkinan terisolasi.Tapi kami belum mendapatkan info lebih lanjut,” tutup dia.
Sementara itu, Direktur Komunikasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) Lukman Aziz Kurniawan menyebutkan hingga kini relawan ACT sudah turun di lokasi pusat gempa. Untuk lokasi paling parah terdampak gempa sangat jauh dari pusat Kota. Sebagai gambaran, untuk mencapai Kepulauan Joronga dari Ternate harus ke Halsel di Bacan selama 8 jam perjalanan laut. Perjalanan menggunakan speed boat bisa 4 sampai 4 jam. “Jika menggunakan pesawat dari Ternate ke Labuha 30-40 menit,” sebut Lukman.
Dari Babang menuju Saketa kalau naik Fery memakan waktu perjalanan 2 sampai 3 jam. “Kemudian disambung jalur darat yang waktu tempuhnya juga lumayan lama,” katanya.(eka/jpg)
Gempa Halmahera Tewaskan Dua Orang



