Maka, berangkatlah Budiman, Susi, dan Sukma, salah seorang anak mereka, ke Pelabuhan Sampit pada Minggu lalu (17/6). Susi mengisahkan, awalnya dirinya merasa kandungannya tak bermasalah. Perjalanan dari kebun sawit tempat suaminya bekerja ke pelabuhan dengan menumpang mobil bermuatan sayur berjalan lancar. Begitu juga halnya ketika beristirahat di depan pintu terminal pelabuhan.
Namun, ketika sang suami hendak membeli tiket KM Leuser, tiba-tiba Susi sakit perut. “Serasa ingin melahirkan. Sakit banget,” ujarnya ketika ditemui Kalteng Pos di rumah sakit. Sang suami pun kalang kabut. Bingung. Antara beli tiket atau menolong istrinya. Diputuskan mencari pertolongan ke petugas medis kantor kesehatan pelabuhan. Sejurus kemudian Susi dirujuk ke rumah sakit.
Setelah mendapat pertolongan, akhirnya bayi itu lahir dengan kondisi sehat. Pada pukul 08.00, persis saat KM Leuser bersiap meninggalkan Pelabuhan Sampit. “Bayi saya kasih nama Putri Mentaya. Sebagai tanda bahwa anak saya lahir di sini (Sampit, Red),” ujar Budiman.
Mentaya adalah nama sungai yang mengaliri Sampit. Sungai yang menjadi sarana transportasi penting di Kotawaringin Timur itu bermuara di Teluk Sampit. Persoalannya bagi Budiman dan Susi, persediaan uang mereka semakin tipis. Bekal dari kebun sebanyak Rp 3 juta sudah habis.
Sebanyak Rp 2,8 juta di antaranya dipakai buat biaya persalinan. Karena itulah, Senin malam (18/6) mereka meninggalkan rumah sakit. Nekat tentu saja. Apa daya, biaya perawatan yang kian membengkak jadi pertimbangan. Tapi, itu tadi, rencana mereka terganjal di pelabuhan.
Budiman sebenarnya bisa memahami alasan mengapa dilarang membawa bayinya berangkat. Tapi, di sisi lain, dia juga benar-benar bingung bagaimana menutup biaya. Hasil dia bekerja sudah habis. Perusahaan besar sawit tempat dia bekerja selama empat bulan terakhir juga tak memberinya THR (tunjangan hari raya).



