Jauhnya tempat ibadah itu membuatnya tak bisa merasakan aura Ramadan seperti di tanah air. “Kalau di Indonesia kan terasa suasana Ramadan. Di sini tidak,” katanya.
Karena itulah, ia dan teman-temannya berencana menggelar buka bersama sekaligus tarawih berjamaah agar tidak kehilangan momen Ramadan. Pengalaman menjalani ibadah puasa di negeri dengan populasi penduduk terbesar di dunia itu, memberikan kesan mendalam baginya. Karena tak hanya panas dan jauhnya lokasi masjid, ada satu hal lagi yang menurutnya cukup “merepotkan”. Yakni, soal kuliner.
Maklum, kantin di kampus menyediakan makan sekitar pukul 10.00 dan pukul 15.00. Sementara, jam buka puasa atau masuk waktu Magrib di tempatnya bermukim, sekitar pukul 18.59.
Tentu saja, ia harus menyiapkan makanan sejak awal agar bisa berbuka. Apalagi, ia sudah membawa bekal makanan dari Indonesia. Seperti bumbu pecel, abon, sambel goreng tempe, hingga mi.
Jam puasa di Tiongkok juga lebih panjang dari Indonesia. Jika di Indonesia rata-rata umat Islam berpuasa sekitar 13 jam, di Tiongkok sampai 15 jam lebih. “Karena itu kami di sini harus beradaptasi dengan situasinya,” katanya.
(br/rf/mie/mie/JPR)



