Jawa Pos (jaringan Radar Sukabumi) sempat menanyakan alasan warga Baduy enggan divaksin Covid-19. Arif, warga Marengo, salah satu kampung di Kanekes, mengatakan bahwa sejauh ini tidak ada yang menderita Covid-19. Karena itu, dia merasa tidak perlu melakukannya.
Naik turun bukit dan hidup yang sehat, menurut dia, sudah bisa menangkal masuknya virus itu. ”Kami juga jarang ketemu orang,” ujarnya.
Risikonya, Arif tidak bisa menikmati fasilitas publik. Dia yang memiliki pekerjaan distribusi barang khas Kanekes tidak bisa bepergian dengan menggunakan KRL. Karena itu, saat mengantarkan dagangan, dia harus naik kendaraan pribadi. Ongkosnya tentu lebih mahal. ”Kalau mau ke Cakung, saya sewa mobil. Berangkat pagi, lalu pulang malam,” ceritanya.
Ayu, warga lainnya, yang berjualan makanan di Terminal Cibolegar, Luewidamar, Lebak, juga belum pernah mendapatkan vaksin Covid-19. ”Kami minum jamu saja,” ujarnya.
Meski demikian, dia memercayai adanya Covid-19. Namun, dia menambahkan, Covid-19 hanya terjadi di kota besar. Di kampungnya masih aman.
Selain soal vaksinasi, 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) juga tidak dilakukan. Saat Jawa Pos tiba, yang terlihat memakai masker hanya pelayan minimarket nirlaba. Juga patung anak-anak di terminal.
Pengunjung mulai banyak menjelang akhir pekan. Momen seperti itulah yang membuat dokter Maytri khawatir. Karena itu, dia berharap pengunjung yang datang mematuhi protokol kesehatan. ”Tolong bantu kami untuk menyukseskan vaksinasi Covid-19,” katanya.






