NASIONAL

Cerita Vaksinasi Covid-19 di Kampung Suku Baduy, Warga : Covid Dikota Besar, Dikampung Masih Aman

×

Cerita Vaksinasi Covid-19 di Kampung Suku Baduy, Warga : Covid Dikota Besar, Dikampung Masih Aman

Sebarkan artikel ini
Baduy
AJAKAN VAKSINASI: Tenaga vaksinator Puskesmas Cisimeut saat mendatangi permukiman warga Baduy di Desa Ciboleger, Lebak, Jumat (20/8).

Kepala Puskesmas Cisimeut dr Maytri Nurmaningsih menuturkan bahwa vaksinator tidak bisa memaksa masyarakat untuk divaksin. Masalah lainnya adalah tidak semua masyarakat Kanekes memiliki KTP.

Bank bjb Tandamata

”Padahal, KTP ini diperlukan untuk kami lapor ke pusat data,” ungkapnya kepada Jawa Pos.

Untuk urusan KTP, sebelumnya Kementerian Kesehatan mengumumkan bahwa warga yang tidak memiliki nomor induk kependudukan (NIK) tetap dapat divaksin Covid-19. Itu bertujuan untuk mempercepat ketercapaian cakupan vaksinasi.

Dengan adanya surat edaran nomor HK.02.02/III/154242/221 itu, diharapkan dinas kesehatan provinsi atau kabupaten/kota dapat berkoordinasi dengan perangkat yang berwenang dalam urusan data kependudukan ketika akan melaksanakan vaksinasi. ”Kalau semua diserahkan ke puskesmas, ya tidak bisa. Tugas kami banyak, sementara orangnya sedikit,” ucap Maytri.

Bukan hanya vaksinasi, masyarakat Kanekes juga enggan dites. Padahal, sebelumnya ditemukan dua orang positif Covid-19 pada Juli lalu.

Dua kasus itu ditemukan ketika ada ibu melahirkan yang periksa ke puskesmas dan menunjukkan gejala. Awalnya mereka juga menolak dites. Seminggu berselang, kondisi keduanya masih sama.

Petugas Puskesmas Cisimeut kemudian melakukan PCR dan terbukti dua ibu hamil itu positif Covid-19. ”Kondisinya seperti flu. Tidak ada perburukan,” ungkap Maytri.

Namun, tracing tidak dapat dilakukan lagi. Sebab, terjadi penolakan.

Sejauh ini, masyarakat Kanekes menolak karena ada informasi palsu yang beredar bahwa vaksin Covid-19 berbahaya. Hoaks yang telanjur menyebar itu membuat mereka takut. Meski perangkat desanya sudah divaksin, masyarakat lebih mengandalkan ramuan yang dimiliki.

Jaro Saija yang ditemui di rumahnya mengatakan tak bisa memaksa warganya untuk mau divaksin. Dia sebenarnya telah mengajak, tapi tetap banyak yang menolak.

Salah satu alasannya adalah hoaks bahwa vaksinasi bisa mengakibatkan orang meninggal. Warganya memilih mengantisipasi Covid-19 dengan air dan 20 ramuan tradisional. Di antaranya, air jahe dan air gula merah. Sebelum pandemi, sebenarnya warga juga rutin mengonsumsi minuman tersebut.