Sementara mereka tidak mengetahui fakta asli yang terjadi saat itu. Untuk bisa mengabadikan foto-foto tersebut, bukan perkara mudah.
Pak Yok yang saat itu belum setahun bekerja di salah satu media cetak di Solo butuh perjuangan. Berbagai intimidasi diterimanya saat pengambilan gambar-gambar tersebut. Bahkan nyawa pun menjadi taruhannya.
“Saya itu lima kali diancam akan ditembak, tidak hanya itu dari para penjarah juga mengancam saat saya mengambil gambar tersebut,” ungkapnya.
Tetapi, Pak Yok pun menyadari bahwa hal itu sudah menjadi risiko dari profesinya. Makanya, selain mengabadikan gambar kerusuhan, dirinya pun berusaha untuk mencari selamat.
“Sempat ketakutan pula saat itu, karena memotret untuk media saat itu tidak seperti sekarang, lebih ngeri. Siapa yang kuat bisa bertindak,” ungkapnya.



