CIKOLE – Pembangunan trotoar di Jalan RE Martadinata, Kota Sukabumi, mulai dikeluhkan warga setempat. Pasalnya bangunan trotoar yang saat ini masih dalam proses pengerjaan itu, dinilai telah menutup jalan masuk menuju pemukiman warga maupun pertokoan yang ada di sepanjang lintasan tersebut.
Berdasarkan pantauan Radar Sukabumi, jalur trotoar yang diperuntukan bagi para pejalan kaki ini dibangun dengan kondisi fisik yang terbilang tinggi dari biasanya.
Seperti diketahui, pada umumnya lintasan tersebut dibuat dengan batas ketinggian sekitar 30 Centimeter. Paling tidak sejajar dengan jalan atau diatas dari permukaan perkerasan jalan. Hal ini bertujuan untuk menjaga keselamatan pejalan kaki.
Dampaknya, keberadaan trotoar dirasakan warga telah menghalangi jalan menuju rumah atau pertokoan. Sejumlah pemilik toko yang berada di sepanjang lokasi pengerjaan trotoar mengaku beberapa waktu terakhir ini jumlah pengunjung atau calon pembeli mengalami penurunan. Hal itu disebabkan akses jalan menuju pertokoan tertutup oleh bangunan trotoar.
Demi menjaga kelangsungan usahanya, sejumlah pemilik toko terpaksa harus mengeluarkan biaya untuk membuka kembali akses masuk dengan cara membangun kembali lintasan menuju toko agar lebih sejajar dengan trotoar.
“Saya terpaksa harus mengeluarkan biaya sendiri hingga Rp20 juta untuk mensejajarkan antara jalan masuk dengan trotoar,” ujar Leo, Pemilik Toko Leo Variasi.
Berbeda dengan Tia Gustiawan. Manager Toko Kue Purimas ini menolak untuk membangun jalur menuju tempat usahanya. Karena biaya untuk membuka kembali akses masuk tersebut terbilang mahal.
Terlebih lagi, dalam waktu dekat akan ada pembangunan gorong-gorong di tepian jalan yang saat ini menjadi lokasi pembuatan trotoar.
“Jikapun jalan masuk toko itu harus dibangun, pada akhirnya harus dibongkar kembali karena akan ada proyek pembangunan gorong-gorong. Seharusnya ketinggian trotoar dibangun dengan menyesuaikan areal parkir atau lintasan masuk ke toko,” ungkap Tia.
Meski dikeluhkan, namun sesungguhnya para pemilik toko mendukung adanya proyek pembangunan trotoar. Asalkan lintasan untuk para pejalan kaki ini tidak menggangu kelangsungan usaha warga pedagang.
Sementara itu Wakil Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi mengaku telah melakukan upaya mediasi antara pihak pemborong yang melaksanakan pembangunan trotoar dengan para pemilik toko dan warga yang bermukim di sekitar sepanjang lokasi proyek. Dari mediasi tersebut akhirnya menemukan titik terang.
“Mediasi sudah dilakukan. Hasilnya, bisa dipastikan keluhan warga akan segera diatasi. Sebab pihak pemborong bersedia melakukan perbaikan dengan menyesusaikan ketinggian trotoar dengan permukaan jalan masuk ke rumah atau toko-toko yang ada disana,” ujar Fahmi kepada Radar Sukabumi, Rabu (1/11).
Dikatakannya, sudah menjadi kewajiban bagi setiap pelaksana proyek untuk melakukan perbaikan jika proyek yang tengah dikerjakannya menimbulkan masalah dengan warga. (cr11/t)



