Siapa yang tidak kenal dengan kendaraan transportasi tradisional yang beroda dua, yang tidak menggunakan mesin tetapi menggunakan kuda sebagai penggantinya.
Ya kendaraan Delman sudah sejak tahun bangsa ini terjajah sudah mengabdikan diri menjadi teman masyarakat dalam berpergian. Bagaima kondisi saat ini, berikut liputannya
Oleh Handi Salam – Sukabumi
Meski banyak menyangka, kendaraan transportasi tradisional Delman akan punah dimakan usia.
Namun, faktanya kendaraan yang di temukan oleh Charles Theodore Deeleman masih tetap bertahan meski dihantam jaman.
Kendaran yang orang belanda sering disebut dos-a-dos (punggung pada punggung, arti harfiah bahasa Perancis), yaitu sejenis kereta yang posisi duduk penumpangnya saling memunggungi ternyata masih ada pelangannya.
Marisa (40) salah seorang pelanggan saat ditemui koran ini pada saat akan menggunakan delman mengatakan, bahwa dirinya sudah menjadi pelanggan delman sejak kecil. Meski hanya sesekali menggunakan, tapi dalam sebulan pasti menggunakan.
Alasanya sih klasik, ingin mengenang kembali ketika dulu dirinya menaiki delman dengan kelurga tercinta.
“Jarang sih mas, tapi kalau lagi mau saya suka menggunakan. Ya itung-itung ikut meletarikan agar mereka tidak gulung tikar, “cetusnya.
Sementara itu, salah satu kusir Delman Asep (40) mengatakan, untuk saat ini Delman yang beroperasi hanya hitungan belasan.
Ya karena sulitnya mendapatkan penumpang, kalaupun ada biasanya langganan dan orang yang sedang berwisata.
Pria yang telah berusia 67 tahun ini telah menggantungkan hidupnya sejak tahun 1977, kembali menjelaskan bahwa dirinya mengantarkan para penumpang di setiap lintasan Kota Sukabumi saja, diluar itu tidak dilanyani.
Soal pendapatannya sebagai kusir mulai dari Rp15.000 per hari hingga Rp150 ribu saja sehari. Seluruh uang yang dihasilkan dari menarik kereta bertenaga kuda tersebut digunakan Asep untuk menafkahi keluarganya sehari-hari.
“Dulu delman sempat berjaya di daerah Sukabumi ini.
Kala itu delman menjadi moda transportasi yang diandalkan oleh warga untuk berpergian.
Pria tua yang selalu mengenakan peci hitam dikepalanya ini bercerita, sebelum ramainya transportasi yang menggunakan mesin, pendapatannya sebagai kusir delman terbilang sangat menggiurkan.
“Dulu itu pendapat paling minim Rp15 dan maksimal Rp100, tapi sudah bisa menafkahi dan membeli tanah, itu saking ramainya,” ungkapnya.
Wajar saja kala itu moda transportasi umum di Kota Sukabumi hanya ada angkutan mobil jeeps wilis, itupun sangat jarang ditemukan.
Beda hal dengan delman jumlahnya menembus angka ratusan.
Kini cerita itu hanya tinggal kenangan saja.
Terpenting bagi Asep maupun kusir delman lainnya hingga kini masih ada sebagian kecil warga yang tetap memanfaatkan delman sebagai transportasi.
Kini telah banyak bermunculan beragam angkutan transportasi baru mulai dari angkutan dalam kota atau angkot, ojeg dan baru-baru ini yang tengah populer adalah taksi daring atau transportasi berbasis aplikasi.
Keberadaan seluruh moda transportasi tersebut kian menghimpit keberadaan delman.
Bagi Asep maupun kusir delman lainnya, selalu berprinsip bahwa dalam menjalankan sebuah bisnis angkutan umum akan selalu diwarnai persaingan.
Situasi itu tidak perlu dirisaukan, apalagi harus terlibat gontok-gontokan.
Satu hal yang harus dilakukan setiap pelaku usaha bisnis angkutan adalah senantiasa meningkatkan pelayanan kepada konsumennya agar merasakan kenyamanan.
“Saya hanya bisa berdoa saja dan selalu yakin rejeki akan selalu dapat diraih sebab sudah diatur oleh yang Maha kuasa, asalkan kita tetap menjalankan usaha, terpenting lagi selalu berupaya memberikan hal terbaik kepada konsumen,” ungkap warga Ciaul Kaler RT04/17 Kelurahan Cisarua Kecamatan Cikole ini kepada koran ini.
Berdasarkan pantauan Radar Sukabumi, delman yang hingga kini masih tetap beroperasi jumlahnya relatif sangat terbatas.
Sarana transportasi itu hanya dapat ditemukan beberapa lokasi saja, seperti di Jalan RE.
Martadinata, tepatnya di depan Kantor Pajak dan di sepanjang Jalan Ciwangi.
“Saya berharap pemerintah bisa melestarikan kendaraan Delman ini, kalau bisa kami dijadikan ikon untuk berwisata di Kota. Semoga saja itu terjadi, “cetusnya. (*)



