KOTA SUKABUMI

Bagi Penghuni Lapas Sendok & Gunting Kuku Jadi Senjata

×

Bagi Penghuni Lapas Sendok & Gunting Kuku Jadi Senjata

Sebarkan artikel ini

WARUDOYONG – Aparat Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II B Nyomplong, Kota Sukabumi membeberkan fakta baru tentang fenomena yang terjadi di lingkungan para tahanan atau narapidana.

Mungkin bagi kebanyakan warga pada umumnya, gunting kuku adalah alat berukuran kecil namun memiliki fungsi banyak, tak lain adalah sebagai perkakas pribadi untuk menggunting kuku yang panjang atau sekadar untuk membersihkan kotoran pada setiap jari kuku.

Bank bjb Tandamata

Namun tidak bagi para napi maupun tahanan yang saat ini menghuni lapas Nyomplong. Ditangan mereka, gunting kuku bisa menjadi senjata ampuh yang mampu mengancam keselamatan siapa saja.

Bukan cuma gunting kuku saja, hal sepele lainnya pun seperti sendok makan, bisa disulap menjadi senjata berbahaya.

Kepala Pengamanan Lapas Nyomplong Alviantino Riski Satriyo menerangkan para penghuni lapas kerap memanfaatkan sendok makan menjadi senjata sejenis pisau.

Caranya dengan mengasah salah satu sisi sendok ke permukaan aspal atau tembok pada sel tahanan agar lebih pipih sehingga berfungsi tajam.

Hal sama juga dilakukan pada gunting kuku. Terlebih lagi alat tersebut pada umumnya telah memiliki bagian tajam, bahkan umumnya dilengkapi dengan pisau terlipat.

Dari sejumlah kasus yang ditemukan aparat lapas, gunting kuku ini kerap digabungkan dengan korek api untuk menjadi senjata berbahaya.

“Setelah jadi senjata tajam, sendok itu bisa digunakan untuk melukai petugas. Selain itu juga ada gunting kuku yang digabungkan dengan korek.

Itu dipakai untuk menusuk petugas. Peristiwa itu pernah terjad saat saya bertugas di Depok,” akunya kepada Radar Sukabumi, kemarin (2/11).

Oleh karenanya meski ditengah keterbatasan petugas di lingkungan lapas, pihaknya akan terus memperketat keamanan.

Selain itu juga melakukan komunikasi dengan aparat kepolisian agar mengirimkan bantuan personel pengamanan untuk ikut berjaga di lapas.

Selain itu, Alviantino juga berupaya melakukan berbagai upaya antisipasi lainnya, salah satunya dengan menggelar razia atau penggeledahan ke kamar-kamar hunian.

Dia mengaku akan terus melakukan upaya antisipasi, mengingat personel Lapas Sukabumi yang jumlahnya masih sangat terbatas, yakni hanya 53 orang. “Dari jumlah tersebut, mereka harus mengawasi sekitar 458 penghuni lapas,” tegasnya. (cr11/d)