Mewaspadai Ancaman Penyakit Demam Berdarah

  • Whatsapp

MASYARAKAT Indonesia secara luas sudah cukup tahu yang namanya penyakit demam berdarah. Penyakit ini biasa disebut Demam Berdarah Dengue (DBD) atau penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk. Penyakit ini dikenal dengan gejalanya yang sangat khas, yaitu suhu tubuh tinggi atau panas sekaligus nyeri sendi, sakit kepala, otot, tulang, dan sakit area belakang mata.

Demam berdarah sendiri dalam istilah medis disebut sebagai dengue hermorrhagic fever.

Bacaan Lainnya

Penyakit DBD ini bisa menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Gejala demam berdarah pada anak maupun orang dewasa sejatinya mudah dikenali.

Secara umum gejala DBD bisa dikenali baik secara fisik maupun bukan, diantaranya: suhu tubuh penderita DBD sangat tinggi bisa mencapai 41 derajat celcius, nafsu makan kurang bahkan hilang selera, badan terasa lelah, lesu dan capek terus menerus, mual hingga muntah, wajah berwarna kemerahan, tenggorokan sakit, kepala pusing dan kelenjar getah bening bengkak.

Disaat musim penghujan seperti sekarang ini masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat di Kabupaten Sukabumi tentunya harus lebih waspadai akan berjangkitnya penyakit DBD ini, penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypty.

Menyikapi kasus DBD di Kabupaten Sukabumi, dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi telah melakukan berbagai upaya untuk meminimalisir kasus DBD yang banyak terjadi belakang ini. Pada tahun 2018 distribusi jumlah kasus DBD di Kabupaten Sukabumi berjumlah 193 kasus dengan IR (Incident Rate) 7,7. Sedangkan memasuki awal tahun 2019 distribusi kasus demam berdarah yaitu sebesar 106, suspek 33 dengan IR 4,2 dan CFR 2,8%.

Untuk itu dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi telah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan kasus DBD di Kabupaten Sukabumi. Berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun 2018, yaitu :

  1. Pembentukan Kader Jumantik di 4 Lokasi
  2. Fogging Fokus : 6 Kasus
  3. Pengambilan KDRS Data DBD Rumah Sakit di 10 Rumah Sakit Kabupaten/Kota Sukabumi
  4. Peningkatan Kapasitas Petugas Puskesmas dalam Pencatatan dan Pelaporan Program P2 Arbovirosis (DBD,Chikungunya,Zika Japanese)

Sedangkan menyikapi kasus DBD di tahun 2019, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi telah melakukan berbagai langkah untuk bisa menurunkan kasus DBD, diantaranya;

  1. Fogging Fokus : 14 Kasus
  2. Pengambilan KDRS Data DBD Rumah Sakit di 10 Rumah Sakit Kabupaten/Kota Sukabumi
  3. Pertemuan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik kepada Tim Penggerak PKK dan Darmawanita
  4. Peningkatan Kapasitas untuk Petugas Fogging Puskesmas dalam rangka pengoperasian,perawatan dan perbaikan mesin fogging.
  5. Sosialisasi Penguatan Pelaporan Data KDRS bagi Petugas Rekam Medik Rumah Sakit

Untuk mencvegah penyakit ini tentu sangat diharpkan pula adanya partisipasi masyarakat dalam mewaspadai timbulnya penyakit demam berdarah. Pencegah DBD harus melalui pemberantasan nyamuk Aedes aegypti secara efektif dan efisien dibutuhkan, demi penurunan kasus DBD secara signifikan dan kosisten. Strategi awal yang harus dilakukan adalah memberikan edukasi masyarakat mengenai penyakit DBD dan pencegahannya.

Selain itu, persepsi masyarakat juga perlu diluruskan terkait metode pencegahan yang paling efektif dan efisien.
Salah satu bentuk pencegahan penyakit DBD adalah melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang secara rutin dilakukan seminggu sekali. Warga masyarakat di Kabupaten Sukabumi harus rutin untuk melakukan kegiatan PSN dalam rangka memutuskan rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.

PSN adalah kegiatan pencegah penularan penyakit DBD melalui kegiatan 4M Plus. Empat M Plus artinya menutup tempat penampungan air, menguras tempat penampungan air secara rutin minimal seminggu sekali, mengubur tempat penampungan air yang tidak terpakai, dan memantau jentik nyamuk seminggu sekali. Plus disini artinya menghindari gigitan nyamuk menggunakan repelen anti nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, melakukan larvasidasi, dan menggunakan kelambu.

Kegiatan PSN merupakan metode pencegahan penularan penyakit DBD yang paling mudah dilakukan masyarakat dan tidak membutuhkan biaya. Jika dibandingan dengan PSN, biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali kegiatan fogging sangatlah besar. Selain itu, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa saja, sedangkan telur dan larva nyamuk tidak ikut terbunuh.

Hal ini memungkinkan telur atau larva nyamuk yang tidak mati, berkembang biak menjadi nyamuk dewasa dalam waktu 3-6 hari. Sedangkan PSN, yang diberantas adalah telur dan jentik dari nyamuk, sehingga mencegah kemungkinan berkembangbiaknya telur atau jentik menjadi nyamuk dewasa.

Efek samping fogging terhadap kesehatan kerap terjadi yang berupa iritasi kulit atau iritasi saluran pernapasan. Sehingga sebelum fogging, warga harus diinformasikan terlebih dahulu untuk menutup makanan atau minuman dan menggunakan masker atau menjauh pada saat kegiatan fogging berlangsung.

Resistensi bahan fogging sudah terjadi di beberapa wilayah, terutama pada wilayah yang sering dilakukan fogging, sehingga muncul kekebalan nyamuk terhadap bahan aktif fogging. Alhasil, banyak nyamuk yang tidak berhasil diberantas.

Edukasi mengenai PSN harus terus digalakkan di seluruh wilayah Kabupaten Sukabumi, masyarakat hendaknya paham bahwa PSN merupakan metode pemberantasan nyamuk yang lebih efektif dan efisien dibandingankan dengan fogging yang masih banyak kekurangan dan kendalanya di lapangan.

Dengan demikian, tentunya pekerjaan ini harus dilakukan bersama-sama, melibatkan seluruh elemen masyakat, agar jumlah kasus DBD di Kabupaten Sukabumi tidak bertambah lagi dan tidak menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *