Kenali Tetanus Lebih Dekat

dr. Raka Suantadina
dr. Raka Suantadina dokter Internship RSI Assyifa

Assalamualaikum warga Sukabumi, semoga sehat selalu. Dalam kesempatan ini perkenankan saya menyampaikan beberapa informasi mengenai tetanus. Mungkin banyak dari kita sudah sering mendengar kata “tetanus” dan mungkin kebanyakan dari kita mengetahui karena tertusuk benda tajam yang berkarat atau kotor. Semoga setelah informasi ini kita semua semakin memahami tentang tetanus baik penanganan maupun cera pencegahannya.

Apa itu tetanus?

Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Tetanus disebabkan oleh bakteri gram positif; Clostridium tetani. Bakteri ini berspora, dijumpai pada tinja binatang terutama kuda, juga bisa pada manusia dan juga pada tanah yang terkontaminasi dengan tinja binatang tersebut.

Bacaan Lainnya

Spora ini bisa tahan beberapa bulan bahkan beberapa tahun. Jika spora menginfeksi luka seseorang, bersamaan dengan daging atau bakteri lain, ia akan memasuki tubuh penderita tersebut, lalu mengeluarkan toksin yang bernama tetanospasmin.

Di negara berkembang, mortalitas tetanus melebihi 50 persen dengan perkiraan jumlah kematian 800.000-1.000.000 orang pertahun. Dua sampai empat di bagian Neurologi RS Hasan Sadikin Bandung, dilaporkan 156 kasus tetanus pada tahun 1999-2000 dengan mortalitas 35,2 persen.

Bagaimana tanda penderita tetanus?

Tetanus memiliki gambaran klinis dengan ciri khas trias rigiditas otot, spasme otot, dan ketidakstabilan otonom. Gejala awalnya meliputi kekakuan otot yang lebih dahulu terjadi pada kelompok otot dengan jalur neuronal pendek.

Oleh karena itu, gejala yang tampak pada lebih dari 90 persen kasus saat masuk rumah sakit adalah trismus atau kesulitan membuka mulut, kaku leher, dan nyeri punggung.

Gambaran yang khas pada tetanus berupa spasme pada otot wajah dimana otot bibir mengalami retraksi atau tertarik, mata tertutup sebagian, alis terangkat yang membuat wajah pasien tampak seperti sedang menyeringai, sakit tenggorokan, dan disfagia.

Peningkatan tonus otot- otot trunkal mengakibatkan opistotonus. Kelompok otot yang berdekatan dengan tempat infeksi sering terlibat, menghasilkan penampakan tidak simetris.

Bagaimana tatalaksana pada penderita tetanus?

Ada tiga sasaran penatalaksanaan tetanus, yakni: pertama, membuang sumber tetanospasmin, kedua, menetralisasi toksin yang tidak terikat. Ketiga, perawatan penunjang (suportif ) sampai tetanospasmin yang berikatan dengan jaringan telah habis dimetabolisme.

Penatalaksanaan lebih lanjut terdiri dari terapi suportif sampai efek toksin yang telah terikat habis. Semua pasien yang dicurigai tetanus sebaiknya ditangani di ICU agar bisa diobservasi secara kontinu. Untuk meminimalkan risiko spasme paroksismal yang dipresipitasi stimulus ekstrinsik, pasien sebaiknya dirawat di ruangan gelap dan tenang.

Bagaimana pencegahan terhadap tetanus?

Pencegahan terdiri atas 3 aspek yaitu: dengan imunisasi dengan toksoid tetanus (TT) merupakan salah satu pencegahan yang sangat efektif. Angka kegagalannya relatif rendah, melakukan perawatan luka harus segera dilakukan terutama pada luka tusuk, luka kotor atau luka yang diduga tercemar dengan spora tetanus.

Perawatan luka dilakukan guna mencegah timbulnya jaringan anaerob. Jaringan nekrotik dan benda asing harus dibuang. Pemberian ATS dan HTIG profilaksis dengan pemberian ATS hanya efektif pada luka baru (< 6 jam) dan harus segera dilanjutkan dengan imunisasi aktif..

Peranan imunisasi sangatlah penting dalam memberikan proteksi pada infeksi tetanus. Pencegahan sangat penting, mengingat perawatan kasus tetanus sulit dan mahal. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.