SUKABUMI — Ramadan di Sukabumi tahun ini bukan hanya diwarnai dengan lantunan doa dan semarak pasar takjil, tetapi juga dengan perdebatan di meja makan sekolah. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai investasi masa depan generasi muda, mendadak jadi bahan perbincangan hangat setelah menu yang dibagikan kepada siswa sekolah dasar menimbulkan tanda tanya.
Di media sosial, beredar foto paket makanan berisi tiga iris singkong dan tiga butir kurma. Bagi sebagian orang tua, sajian itu terasa terlalu sederhana untuk disebut “bergizi”. Hariyanto, seorang wali murid, bahkan sempat mencicipi singkong tersebut. “Rasanya agak asam, teksturnya licin. Menurut saya, menu seperti ini belum bisa disebut bergizi,” ujarnya dengan nada kecewa.
Kekecewaan itu bukan sekadar soal rasa. Bagi para orang tua, program MBG adalah simbol harapan: bahwa anak-anak mereka akan tumbuh sehat, kuat, dan siap menghadapi masa depan. Ketika menu yang datang tidak sesuai ekspektasi, rasa kecewa pun tak terhindarkan. “Bukannya tidak bersyukur, cuma yang agak pantas saja. Kalau singkong, di sini juga banyak,” tambah Hariyanto.
Pihak penyelenggara, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Perbawati, buru-buru memberikan klarifikasi. Kepala SPPG, Muhammad Sona, menjelaskan bahwa sebenarnya menu tersebut adalah singkong Thailand dengan vla susu, kurma, serta telur rebus sebagai tambahan protein. Namun, distribusi telur sempat tertunda karena kendala teknis. “Kami mohon maaf atas kesalahan dari dapur kami. Ke depan, kami akan melakukan perbaikan agar penyajian lebih baik lagi,” katanya.






