SUKABUMI — Pemerintah Kabupaten Sukabumi meresmikan pembukaan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) ke-7 di Sentra Phalamarta, Kecamatan Cibadak, Senin (14/07). Sebanyak 100 siswa dari 38 kecamatan, khususnya dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, mulai mengikuti pembelajaran di sekolah berbasis asrama tersebut.
Bupati Sukabumi, Asep Japar, menyatakan bahwa SRMP hadir sebagai bagian dari upaya mendukung Program Wajib Belajar 12 Tahun dan sebagai bentuk komitmen memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan. “Ini bukan hanya sekolah formal, tapi ruang hidup untuk membentuk manusia cerdas, merdeka, dan berkarakter,” ujar Asep.
SRMP menyediakan fasilitas gratis, mencakup tempat tinggal, makan, pakaian, hingga layanan kesehatan. Para siswa diterima bukan berdasarkan nilai akademik, melainkan semangat untuk bersekolah di tengah keterbatasan ekonomi.
Menurut Kepala Sentra Phalamarta, Dian Bulan Sari, seleksi dilakukan secara terbuka dan akurat berdasarkan Data Sosial Ekonomi Nasional yang diverifikasi di lapangan oleh tim lintas sektor. Dari 156 pendaftar, 100 siswa ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati.
“Program ini diperuntukkan bagi keluarga dari desil 1 dan 2 kesejahteraan nasional, sesuai arahan Presiden,” terang Dian.
SRMP menerapkan sistem pembelajaran berbasis karakter dengan pendampingan langsung oleh 9 wali asuh dari Program Keluarga Harapan (PKH). Kurikulum mengikuti standar Ditjen Dikdasmen dengan tambahan pembiasaan hidup mandiri dan pembentukan kedisiplinan. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama dua minggu melibatkan unsur TNI dan Polri serta pemeriksaan kesehatan awal bagi siswa.
Meskipun masih berstatus rintisan dan menggunakan fasilitas milik Kementerian Sosial, SRMP dilengkapi asrama, ruang kelas, laboratorium, ruang konseling, dan sarana olahraga. Saat ini terdapat 13 guru dan akan ditambah seiring kebutuhan.
Pemkab Sukabumi berencana membangun sekolah rakyat permanen di Cicurug tahun depan, dengan kapasitas hingga 1.000 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA.
Salah satu orangtua siswa, Miftah Ajis (62), buruh serabutan asal Parungkuda, mengaku lega anaknya bisa melanjutkan pendidikan. “Alhamdulillah, saya tenang karena anak saya semangat sekolah dan punya cita-cita jadi TNI,” katanya.
SRMP diharapkan mampu menjadi model pendidikan inklusif yang membentuk generasi berdaya dan menyiapkan masa depan menuju Indonesia Emas 2045.(den/d)






