“Kasus stunting ini, penyebabnya cakupan gizi, pendidikan tumbuh kembang dari orangtua kepada anak, prilaku keluarga termasuk didalamnnya sanitasi.
Ini penyebab yang utamanya, jadi dalam menyikapi kasus stunting ini, bukan hanya asupan gizinya saja yang di perhatikan, tetapi keluarganya juga harus di bina melalui berbagai macam pendekatan, salah satunya melalaui program pemberdayaan dan program keluarga kependudukan keluarga berencana. Sehingga mereka bisa terus diarahkan dan berpilaku dan mengkonsumi makanan bergizi,” tandasnya.
Pihaknya menambahkan, ciri bayi mengidap penyakit stuntig itu bisa dilihat dari masa kelahiran pertama hingga 100 hari kelahiran, maka berat badannya kurang sebagai mana standar yang ditentukan.
Namun yang menjadi ciri esensinya merupakan tinggi badan yang tidak sesuai dengan standar tumbuh kembang anak. Sehingga bisa dijadikan ciri utama yang ditandai dengan bocah yang disebut cebol.
“Penyakit tersebut selain mengganggu pertumbuhan pada anak yang ditandai dengan tinggi dan berat badan, juga dapat menghambat perkembangan otak anak.
Untuk itu, kami terus bekerjasama dengan seluruh komponen, salah satunya pemerintah desa agar bersama-sama mengantisipasi terjadinya kasus stunting yang menyerang pada bayi,” pungkasnya. (den/d)






