“Saya rasa habitat Kukang ini msih banyak, hanya yang dikahwatirkan itu kenapa dia sampai menuju ke permukiman, ketempat tempat orang banyak mungkin perlu pendalaman lebih jauh, kalau penampakan awal itu kukang kelihatan masih liar, ketika dia ganggu, satwa itu, ketika makin jauh dengan kita itu liar, kemudian ketika dia akan merasa terpojokan dia akan menyerang, saya lihat sementara selintas gigi taringnya masih muncul, kayanya itu kukang bukan peliharaan,” bebernya.
Kalaupun itu piharaan, kata Isep paling baru satu atau dua hari lamanya, karena kalau melihat orang memelihara biasanya sudah mengtahui bahwa berbahaya sehingga taringnya akan dipotong atau dikikir.
“Itu dari pengalaman, berbahaya dari beberapa referensi belum mengatakan seperti itu, kita tahunya satwa itu dilindungi, mungkin karena dilindungi itu karena keterbatasan endemi, bisa saja karena lokasinya sedikit, satwanya sedikit itu bisa dijadikan dasar untuk dilindungi, ketika itu ada racunnya atau tidak saya tidak tahu reperensinya, hanya pernah ada kejadian yang sampai pingsan ketika didigit oleh Kukang, apakah itu mengandung rabies atau apa kita gak tahu,” tandasnya. (Cr2/d)





