“Sehari laku paling satu mangkuk dan secara langsung omset menurun drastis akibat PPKM darurat, sehingga pembelinya tidak ada,” terang Endang disela-sela aksinya mengibarkan bendera putih di depan Alun-alun Cicurug, Kamis (22/7).
Bahkan, bapak anak tiga ini sudah berpuasa selama sembilan hari agar anak istrinya dapat makan. Karena memang pasca dagangannya tidak begitu laku, Endang tidak lagi sanggup untuk membeli kebutuhan pokok.
“Sudah 9 hari ini saya puasa. Demi Allah pak, karena saya mengalah demi anak. Anak saya ada tiga pak,” sebutnya.
Endang mengakui, jika pada biasanya dari hasil dagangannya dirinya mendapat omset kotor sebesar satu juta rupiah dalam satu harinya. Namun kini, pendapatnya merosot tajam.
“Sehari paling laku sati mangkuk, biasanya kalau lagi normal penghasilan saya sampai 1 juta,” ucapnya.
Selama adanya pandemi ini dirinya belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. Bahkan, sempat mengajukan bantuan UMKM pun tidak membuahkan hasil.
“Sepeserpun tidak ada pak, saya berharap PPKM ditiadakan biarkan aktivitas kembali normal,” tandasnya.
Simalakama. Begitulah adagium yang tak tepat untuk menggambarkan dampak dari kebijakan PPKM Darurat. Niat pemerintah ingin menekan kasus Covid-19, tapi di sisi lain kantong masyarakat kecil mengempis. (*/t)






