KABUPATEN SUKABUMI

Menelisik Gerakan Baldatun Center Atasi Kemiskinan dengan Santuni Yatim

×

Menelisik Gerakan Baldatun Center Atasi Kemiskinan dengan Santuni Yatim

Sebarkan artikel ini
MENYANTUNI : Pendiri sekaligus penanggungjawab Baldatun center, Ade Dasep Zaenal Abidin saat menyantuni anak yatim di Mesjid Jami An-Nur Kampung Babakan Desa/Kecamatan Cikidang Jumat (19/11/2021).

SUKABUMI — Hampir disetiap negara berkembang, jumlah kemiskinan tinggi. Tak terkecuali di Indonesia, ketimpangan ekonomi diperparah dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu akibat pandemi Covid-19 membuat sebagian warga kehilangan mata pencahariannya. Untuk itu, Baldatun Center mencoba membuka gerakan mengatasi kemiskinan di Kabupaten Sukabumi dengan tindakan nyata yang diawali dengan santunan anak yatim yang belum Baligh, hal itu bertujuan untuk meminta kekuatan doa anak yatim agar Kabupaten Sukabumi terbebas dari kemiskinan.

Pendiri sekaligus penanggungjawab Baldatun center, Ade Dasep Zaenal Abidin berpendapat yang namanya miskin bukan hanya miskin harta tetapi ilmu dan akhlak juga jika tidak diberikan ilmu yang baik bisa dikategorikan miskin juga. Artinya dalam kontek mengatasi masalah kemiskinan bukan pada hanya materinya saja tetapi kepada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang maju tanpa mengeluh dan merasa ingin dibelaskasihani orang lain. Artinya, pengentasan kemiskinan harus dimulai dari jiwa-jiwa orang tersebut.

Bank bjb Tandamata

“Gerakan baldatun ini untuk mengentaskan kemiskinan diawali dengan meminta doa anak yatim agar Kabupaten Sukabumi Barokah dan terbebas dari kemiskinan harta maupun ilmu. Saya juga sadar betul bahwa kemiskinan tidak bisa dihilangkan 100 persen dinegara majupun, tetapi kemiskinan ilmu (Pembangunan SDM red) itu sangat bisa sekali, yang mana meski orangnya serba kesulitan tetapi ketika jiwa dan fikirannya kaya oleh ilmu maka kehidupan akan indah, “jelas Ade Dasep usai melakukan wakaf Alquran serta santunan 51 anak yatim di Mesjid Jami An-Nur Kampung Babakan Desa/Kecamatan Cikidang Jumat (19/11/2021).

Dirinya menegaskan, dalam setiap kesempatan menyantuni anak yatim dirinya selalu meminta doa kepada anak-anak yatim agar Kabupaten Sukabumi menjadi kabupaten yang barokah yang diridhoi olehh Allah, masyarakatnya makmur dan damai. Namun, dirinya juga mengakui dalam membangun sebuah tatanan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam yang tertuang dalam Alquran sangatlah berat. Apalagi dimasa sekarang ini, kebudayaan asing sangat mudah menular ke anak-anak lewat mudahnya akses internet.

“Berat memang, tapi ini perjuangan. Saya bersama baldatun center sudah bergerak dari masjid ke masjid untuk menyuarakan isu soal ini. Saat ini sudah masjid ke 65 di desa ke 47 dan itu bukan perjalanan yang sangat sebentar, dari awal dilantik saya sebagai anggota DPRD di Kabupaten Sukabumi saya selalu bergerak untuk menunaikan janji politik saya, tujuannya tak lain agar jabatan saya bisa berguna untuk umat, “tandasnya.

Bahkan dirinya merasa bangga ketika saat ini, Persatuan Purnawirawan Indonesia Raya (PPIR) Sukabumi ikut dan bergerak bersama dengan Baldatun dalam gerakan ini. Dengan begitu, apa yang menjadi harapan Kabupaten Sukabumi religius, maju, dan inovatif menuju masyarakat sejahtera lahir batin bisa segera terwujud. Pasalnya, ketika harapan tanpa adanya aksi nyata sangatlah sulit, harus dibarengi dengan tindakan nyata meskipun gerakannya kecil.

“Kan begini, ketika pemerintah memiliki visi religius, maju, dan inovatif menuju masyarakat sejahtera lahir batin tentu harus diawali dengan dorongan kegiatan yang religius. Tetapi, religius itu sendiri adalah pembangunan SDM, maka sangat erat kaitannya dengan penuntasan kemiskinan ilmu. Karena banyak saat ini warga yang miskin ilmu melakukan tindakan kriminal dan tindakan merugikan orang lain, setidaknya dengan kaya ilmu warganya kehidupannyapun akan berubah meski serba kekurangan. Intinya pembangunan SDM terlebih dahulu, setelah kaya ilmu maka duniapun akan mengikuti, “jelasnya.

Lebih lanjut dirinya berharap, di Kabupaten Sukabumi bisa tidak ada satu orangpun yang ‘miskin’, artinya miskin ilmu maupun miskin materi. Tetapi ketika usaha mencapai miskin materi sangatlah sulit, maka hal yang paling realistis adalah terbebas dari miskin ilmu. Dengan itu, kualitas SDM di Kabupaten Sukabumi akan terbangun dengan baik.