“Tetapi tetap tidak melepas kodratnya sebagai seorang istri dari suami, ibu dari anaknya, dan anak dari seorang ibu,” ucapnya.
Menurut Leni, banyak hal yang bisa muncul dalam ingatan semua mengenai salah satu sosok pahlawan perempuan yang satu ini. Namun, tergantung sejauh mana pengenalan dan wawasan.
“Salah satu hal yang terlintas dalam benak kami adalah salah satu karya beliau yang fenomenal. Yakni kumpulan surat-suratnya yang bertajuk “Habis Gelap Terbitlah Terang,” jelasnya.
Sejarah mengatakan, lanjut Leni bahwa pada zaman itu pendidikan hanyalah hak bagi sebagian kecil warga negara Indonesia yang berdarah ningrat. Pendidikan tidak layak bersentuhan dengan rakyat jelata, terlalu mahal.
“Termasuk untuk kaum perempuan. Jangan harap para wanita bisa mengenyam manisnya pendidikan, jika ia bukan berdarah biru. Sungguh pilu. Kondisi ini tentu saja membuat kaum hawa jauh dari ilmu yang justru harus menjadi bekal penting untuknya menjalani berbagai tugas mulia. Sebagai individu, istri, bahkan sebagai ibu. Lebih dari itu Islam juga telah mengangkat derajat kaum hawa, “Wanita adalah tiang negara,” imbuhnya.
Bagaimana mungkin seorang istri, ibu, bahkan tiang negara tidak memiliki keilmuan yang mumpuni. Begitulah kiranya yang mendorong RA Kartini untuk membuat sebuah terobosan sekaligus gebrakan.
“Gebrakan yang mendobrak segala sistem yang mengungkung dan memasung akal wanita dengan non ilmu. Menjadikannya gelap, kebodohan melindap segala aspek kehidupan. Jelas, karena mereka dijauhkan dari sumber cahaya yang bernama ilmu,” ucap dia.
“Dengan meluncurkan “Habis gelap terbitlah terang”, menjadi sebuah upaya agar kaum hawa bisa datang membawa cahaya. Cahaya terang benderang tapi tak menyilaukan mata. Cahaya ilmu yang bisa mengawal kehidupan ke arah yang lebih baik,” kata dia.






