“Longsor terjadi lagi pada Rabu sekira jam 18:00 WIB. Otomatis, dampak longsor semakin meluas. Bahkan, yang lebih membahayakan lagi rumah yang berada di atas bukit ini,” ungkapnya.
Bapak tiga anak ini mengaku, pasca kejadian dirinya langsung melakukan pelaporan kepada pemerintah setempat melalui ketua RT setempat. Namun belum diketahui alasan pastinya, pihak pemerintah belum juga turun ke lapangan.

“Kalau bantuan belum ada, tapi jika datang semua pada datang dari mulai perangkat desa dan sebagainya. Baru hari ini mungkin datang bantuan dari komunitas penanggulangan bencana,” tutupnya.
Kepala Desa Talaga, Kecamatan Caringin, Aep Saefulloh mengungkapkan, pemerintah desa telah melakukan koordinasi dengan pemerintah kecamatan. Selain itu, keterbatasan biaya tidak terduga (BTT) yang dimiliki pemerintah desa membuat dirinya belum melakukan perbaikan maupun bantuan.
“Jika melihat kerusakan akibat longsor ini, secara anggaran pasti membutuhkan anggaran yang cukup besar. Belum lagi beberapa rumah yang terancam di bagian atas tebing, sedangan BTT di desa hanya Rp6 juta setahun. Tapi kami akan berupaya sebisanya agar warga merasa aman,” ungkapnya.



