KABUPATEN SUKABUMI

Kebonpedes Masuk Daerah Stunting

×

Kebonpedes Masuk Daerah Stunting

Sebarkan artikel ini
SOSIALISASI STUNTING: Puluhan warga saat mengikuti sosialisasi soal pencegahan stunting di Kantor Desa Kebonpedes, (12/2).

KEBONPEDES – Pemerintah Desa Kebonpedes mensosialisasikan pendidikan gizi dalam pemberian makanan tambahan lokal bagi ibu hamil dan balita. Ini salah satu bentuk upaya pemerintah setempat dalam mencegah stunting di wilayah Desa Kebonpedes.

Kepala Desa Kebonpedes, Saepdudin mengatakan, stunting merupakan sebuah gangguan pertumbuhan pada anak yang ditandai dengan tinggi badan anak lebih pendek dari anak-anak lain seusianya. “Desa kami ini masuk pada kategori stunting dengan 10 desa lainnya. Makanya kami intensifkan sosialisasi ini agara dapat meminimalisir,” jelas Saepudin kepada Radar Sukabumi, kemarin (12/2).

Bank bjb Tandamata

Status desa stunting tersebut, sambung Saepudin, berdasarkan penetapan dari survei tim Posyandu yang melakukan pemeriksaan pada tahun 2013 silam dengan sasaran anak usia sejak di dalam kandungan sampai berusia 2 tahun. “Hasil survei itu, di Desa Kebonpedes ini ditemukan 86 anak yang diduga mengidap stuting. Namun setelah diverifikasi, ternyata ada 6 anak yang kena stunting. Sejak itu, desa kami masuk dalam ketegori stunting,” bebernya.

Untuk itu, dalam penanganan stunting ini, Desa Kebonpedes melakukan berbagai ragam kegiatan. Seperti melakukan intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif pada sasaran 1.000 hari pertama kehidupan dari anak sejak di dalam kandungan sampai berusia 2 tahun. “Kami juga terus berkoordinasi dan menjalin kerjasama dengan seluruh stakeholder, khususnya Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi melalui Puskesmas Kebonpedes dalam penyuluhan kepada seluruh warga,” bebernya.

Menurut Saepudin, stunting merupakan sebuah ancaman utama terhadap kualitas hidup manusia. Bukan hanya itu, stunting juga selain dapat mengganggu pertumbuhan fisik juga dapat menghambat perkembangan otak anak. “Bila demikian, tentu ini akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitasnya,” paparnya.

Supaya dapat diminalisir soal stunting ini, ia menghimbau kepada seluruh warga agar lebih memperhatikan asupan makanan anak sejak dini. Hal ini sangat penting untuk menghindari berbagai permasalahan kesehatan akibat kekurangan gizi. Sehingga berdampak baik terhadap pertumbuhan anak.

“Upaya pencegahan sebaiknya dilakukan sejak bayi masih dalam kandungan. Bahkan pemenuhan nutrisi yang maksimal sudah bisa dimulai sejak ibu mempersiapkan kehamilan. Jadi sebelum hamil, seorang ibu harus punya status gizi yang cukup, sehingga ketika hamil sudah dalam kondisi tubuh yang baik,” imbuhnya.

Sementara itu, Camat Kebonpedes, Ali Iskandar mengatakan, wilayah Kecamatan Kebonpedes merupakan wilayah yang masuk dalam kategori penanganan stunting. Dari 47 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Sukabumi, terdapat 4 kecamatan yang masuk pada intervensi pemerintah pusat dalam hal penanganan stunting dan salah satunya adalah Kecamatan Kebonpedes.

Menurutnya, faktor utama penyebab terjadinya stanting dan gagal tumbuh pada anak yang dapat menyebabkan putusnya generasi serta menghadirkan ketidak sejahteraan dan kemiskinan, dipengaruhi oleh dua penyebab utama. Yakni penyebab langsung yang dipengaruhi asupan gizi dan kedua penyebab secara tidak langsung yang dipengaruhi oleh sanitasi dan tumbuh kembang. “Untuk kondisi di Kecamatan Kebonpedes sendiri, 70 persen penyebab utamanya adalah sanitasi,” paparnya.

Mantan Sekretaris Disnakertrans Kabupaten Sukabumi ini pun menghimbau kepada seluruh warganya agar selalu menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungannya masing-masing. “Karena kebiasaan buang air besar sembarangan ini berdampak besar bagi kesehatan. Sehingga menyebabkan terjadinya stunting,” pungkasnya. (Den/d)