KABUPATEN SUKABUMI

Jembatan Impian di Simpenan Sukabumi Terwujud, Pelajar Tak Lagi Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai

×

Jembatan Impian di Simpenan Sukabumi Terwujud, Pelajar Tak Lagi Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai

Sebarkan artikel ini
Jembatan Impian Simpenan Sukabumi

SIMPENAN – Aksi nekat sejumlah pelajar di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi yang harus melintasi sungai dengan ban bekas untuk berangkat ke sekolah akhirnya menjadi masa lalu.

Setelah bertahun-tahun dan viral di media sosial serta menjadi sorotan semua pihak, kini harapan warga terwujud berkat pembangunan jembatan gantung Cikanara sepanjang 100 meter yang menghubungkan Desa Cidadap dengan Desa Loji kecamatan Simpenan.

Bank bjb Tandamata

Setelah lama menjadi impian dan harapan masyarakat terus diperjuangkan sejak tahun 1998, jembatan gantung yang diberi nama Cikanara diambil dari nama tiga kampung yakni Cikadaka, Naringul dan Sawah Bera dibangun oleh Yayasan Sehati Gerak Bersama

Founder Yayasan Sehati Bergerak Bersama, Andri Kurniawan, mengungkapkan rasa syukurnya atas keberhasilan pembangunan jembatan tersebut, dimana jembatan impian masyarakat bisa dibangun sepanjang 100 meter dengan lebar 125 cm.

“Insyaallah, dengan perawatan yang baik oleh masyarakat sekitar, jembatan ini bisa bertahan lebih dari 10 tahun,” ungkap Andri saat peresmian jembatan tersebut. Sabtu, (21/9)

Pembangunan jembatan ini, kata Andri bukan tanpa tantangan, cuaca ekstrem dengan suhu mencapai 48 derajat Celsius menjadi hambatan besar, banyak tim pekerja harus menyesuaikan waktu kerja dengan menghentikan aktivitas saat siang hari dan melanjutkan pada sore hingga tengah malam.

“Anggaran yang kita keluarkan mencapai Rp 235 juta, semuanya murni dari donatur dan mitra kami, pemerintah memberikan doa, dan itu kami syukuri. Semua biaya, dari pasir hingga tenaga kerja, ditanggung oleh masyarakat sekitar, ini menjadi bentuk gotong royong yang luar biasa,” jelas Andri.

Lanjut Andri, kehadiran jembatan gantung ini menjadi solusi atas laporan masyarakat yang kerap menyaksikan para pelajar dan warga mempertaruhkan nyawa saat menyeberangi sungai, bahkan dari cerita yang didapatnya telah beberapa kali terjadi korban jiwa hanyut saat melintas dengan kondisi debit air deras.

“Tim kami sempat survei langsung ke lokasi, dan setelah memvalidasi kondisi di lapangan, kami memutuskan untuk segera membangun jembatan ini,” terangnya.

Jembatan Impian Simpenan Sukabumi
Suasana saat peresmian jembatan gantung Cikanara penghubung desa Cidadap dengan Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Pembangunan jembatan gantung dengan nama Cikanara ini, kata Andri yang berada di wilayah kecamatan Simpenan merupakan jembatan kedelapan yang dibangun oleh Yayasan Sehati Gerak Bersama. Sebelumnya, mereka telah menyelesaikan proyek di wilayah Cidahu, Nanggela, Warungkiara, Pabuaran, dan Cibadak.

Selain membangun jembatan, Yayasan Sehati juga berencana memperluas bantuan mereka. “Insya Allah, kami sedang mempertimbangkan membangun perahu untuk anak-anak sekolah dan guru di wilayah pelosok Cikaso, termasuk perahu sungai untuk ambulans medis,” paparnya.

Dengan hadirnya jembatan ini, Andri menegaskan warga Desa Cidadap dan Desa Loji serta sekitarnya kini bisa beraktivitas dengan lebih aman dan nyaman.

“Para pelajar tak lagi harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai untuk menuju sekolah, membawa harapan baru bagi masa depan mereka,” tandasnya.

Sementara itu Camat Simpenan R. Ade Akhsan Artadiredja mengungkapkan, bahwa keberadaan jembatan sangat dinantikan masyarakat sejak tahun 1998, sehingga dengan adanya jembatan gantung tersebut tentunya patut disyukuri.

“Ahamdulillah atas inisiasi, partisipatif donasi dari rekan rekan yang memang dikolaborasikan melalui sehati gerak bersama, ini dapat terwujud, ya walaupun anggaran sedang inflasi pada hari ini, baik untuk pemerintah pusat, daerah provinsi, kabupaten dan kota, akan tetapi ini ada partisipasi dari orang orang yang memang bergerak dalam kesosialan,” timpalnya.

R. Ade Akhsan, menyampaikan pasca terbangunnya jembatan gantung terdapat tantangan yang harus menjadi perhatian bersama kedepan, karena menurut founder dari yayasan kamil membangun itu mudah, yang menjadi tantangan kedepan yakni menjaga, merawat agar keberadaan jembatan dapat berumur lama

“Nanti kedepan kita akan sama sama juga termasuk pemdes, nanti akan dilanjutkan ketingkat bawah, ke dusunan, ke RW an, dan ke RT an berikut dengan tokoh tokoh yang ada disini untuk bersama sama merawat,” ucapnya.

“Jadi kita sama sama untuk menjaga amanah ini, sehingga kemanfaaatannya bisa berlaku tidak hanya satu, dua atau tiga tahun kedepan tetapi kita berkepanjangan,” tandasnya. (Ndi)