KABUPATEN SUKABUMI

Jalan Rusak, Anak Digendong: Jeritan Warga Babakan Minta Perbaikan

×

Jalan Rusak, Anak Digendong: Jeritan Warga Babakan Minta Perbaikan

Sebarkan artikel ini
Sejumlah anak di Kampung Babakan, Desa Mekarjaya, Kecamatan Warungkiara, membentangkan poster protes atas kondisi jalan rusak. Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan. (Foto: Untuk/Radar Sukabumi)
Sejumlah anak di Kampung Babakan, Desa Mekarjaya, Kecamatan Warungkiara, membentangkan poster protes atas kondisi jalan rusak. Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan. (Foto: Untuk/Radar Sukabumi)

SUKABUMI – Pagi di Kampung Babakan, Desa Mekarjaya, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, berubah menjadi pemandangan penuh keprihatinan. Alih-alih tawa ceria anak-anak berangkat sekolah, yang terlihat justru ibu-ibu menggendong anaknya melewati jalan tanah berlumpur yang rusak parah.

Bank bjb Tandamata

Fenomena ini viral di media sosial. Dalam video yang beredar, sejumlah anak berseragam putih-merah berjalan tertatih di jalur ekstrem sambil membentangkan poster bertuliskan “Kami Lebih Butuh Perbaikan Jalan Daripada MBG!”. Pesan sederhana itu sarat kegelisahan warga yang sudah lama menanti perhatian pemerintah.

Penelusuran menunjukkan, lokasi jalan rusak berada di Kampung Babakan, jalur penghubung Kecamatan Simpenan dan Warungkiara. Kondisi jalan sepanjang 100 meter rusak parah, becek, licin, dan rawan longsor, terutama saat hujan.

Rika (30), seorang ibu yang setiap hari menjemput anaknya, mengaku terpaksa melakukan itu demi keselamatan. “Anak nggak bisa lewat sendiri. Pernah juga jatuh, kepleset,” ujarnya. Menurutnya, kondisi ini sudah berlangsung dua bulan terakhir sejak hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Ketua RT 03/04 Kampung Babakan, Dedem, membenarkan aksi anak-anak memegang poster terjadi di wilayahnya. Ia menjelaskan, longsor yang berulang setiap musim hujan menjadi penyebab utama kerusakan jalan. Warga sudah berulang kali melakukan kerja bakti, bahkan membuat jalur darurat secara swadaya, namun tetap berbahaya.

“Berangkat sekolah diantar, pulangnya dijemput sambil digendong. Jalurnya ekstrem,” ungkap Dedem. Ia menambahkan, jalan tersebut merupakan kewenangan pemerintah daerah sehingga desa tidak bisa melakukan pembangunan permanen.