SUKABUMI — Nasib memilukan menimpa Abdurahman (17) asal warga Kampung Lemah Duhur, RT (02/11), Desa Margaluyu, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi.
Bagaimana tidak, anak dari pasangan buah hati Pak Anwar (68) dan Ibu Waqiah (55) sudah belasan tahun mengidap penyakit cerebral palsy. Selain kondisi tubuhnya kurus kerontang dengan berat badan 10 kilogram, anak bungsu dari lima bersaudara itu, juga sempat dikabarkan menjalani operasi pada bagian ususnya, karena terjangkit radang usus di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R Syamsudin SH Kota Sukabumi, pada 2021 lalu.
“Penyakit anak saya itu, sudah sejak lahir. Kalau nama aslinya Abdurahman. Tapi, nama panggilannya Abay. Kan ibu lahirnya itu plamsi kata dokter pendarahan hebat, kronologi kelahiran ibu dari gak sadarkan diri sekitar 2007 lalu,” kata Waqiah saat disambangi Radar Sukabumi di rumah kediamannya pada Rabu (05/06).
Gejala Abay mulai dirasa aneh oleh keluarganya, sejak ia berusia sekitar 5 bulan. Karena, anak buah hatinya tidak bisa bicara seperti balita pada umumnya. “Pokoknya anak ibu total gak bisa apa-apa, nyampai usia 2 tahun kemudian dari bidan desa diinformasikan ke desa bahwa harus dibawa ke Rumah Sakit Bunut, untuk di terapi, tapi hingga sekarang anak saya masih tetap seperti ini,” ujarnya.
“Qodarullah anak ibu mah dari lahir kejang, kejangnya gak panas, tiba-tiba kejang akut gitu. Jadi dari awal itu divonisnya cerebral palsy kata dokter,” tukasnya.
Sejak lahir hingga saat ini usia Abay beranjak 17 tahun, ia selalu bergantung pada orang tuanya karena tak bisa beraktivitas. Kesehariannya, Abay hanya bisa terbaring lemas di atas kasur. Bahkan untuk makan, orantuanya harus menyuntikkan makanan yang dihaluskan. Hal ini dilakukan karena Abay tidak mampu mengunyah makanan sehingga semua asupan harus diberikan melalui slang nasogastric tube atau sonde. Termasuk untuk buang air besar, Waqiah harus mengganti kantung kolostom usai usus Abay dioperasi.
“Kalau makan, iya itu harus diblender dulu. Biasanya, makan sama telor dan daging, terus buah-buahan juga, sekali-kali,” imbuhnya.
Ketika disinggung mengenai perhatian dari pemerintah, Waqiah menjawab, bahwa pemerintah Desa Margaluyu dan Puskesmas hingga pihak rumah sakit, telah membantu banyak untuk proses pengobatan anak tercintanya.
“Anak saya itu, kalau ada apa-apa pasti dibawa ke rumah sakit Bunut. Karena, sejak lahir suka dibawa ke sana. Pernah juga kami bawa ke Rumah Sakit Cicendo bandung hingga rumah sakit Hasan Sadikin, iya itu ikhtiar dan usaha ibu dilaksanakan,” imbuhnya.
Meski orangtua Abay kondisinya sudah tak lagi muda, tetapi mereka tetap merawat anak bungsunya yang mengalami celebral palsy dengan penuh kasih sayang. Keterbatasan ekonomi tidak menjadi hambatan bagi keluarga Ibu Waqiah dan Pak Anwar dalam merawat anaknya yang memiliki sejuta harapan untuk kesembuhan anak tercintanya tersebut.





