“Kalau suami bekerja sebagai buruh tani palawija. Seperti tomat, cabai dan sawi. Kadang, untuk biaya makan atau beli susu, suka dikasih sama kakak-kakanya Abay. Tetapi, juga ada keluarga terdekat hingga tetangga yang suka membantu dalam hal biaya,” imbuhnya.
“Memang dengan turun naik ekonomi, sehari kolestom, susunya ajah Rp250 ribu, makan harus ngejaga ekstra, tapi gimana juga. Susu, sekarang mah ganti aja sama ygan biasa Dancow, kolestom, pampers sehari 4 kadang 5. Nah, yang bikin deg-degan itu gak ada di warung, kalau di warung mah kapan aja kita kan bisa. Jadi, kalau ibu sendiri tidak menadahkan tangan untuk meminta-minta. Tapi dengan kondisi itu banyak yang membantu, karena kasihan melihat kondisi Abay,” timpalnya.
Sementara itu, Kepala Desa Margaluyu, Utep Sudarjat mengatakan, pemerintah desa selalu berupaya maksimal untuk membantu keluarga Abay. Salah satunya, memfasilitasi saat Abay membutuhkan kendaraan ambulans untuk check up ke rumah sakit.
“Bahkan, saya sering kali datag ke rumahnya untuk menjenguk dan memberikan uang sebagai kadaudeuh dari saya secara pribadi,” kata Utep.
Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa Abay sempat menjalani perawatan dan terapi di sejumlah rumah sakit. Namun demikian, kondisi kesehatannya belum membaik.
“Upaya kami kedepan, tentunya pemerintah desa akan terus koordinasi dengan pemerintah Kecamatan Sukaraja dan Puskesmas. Iya, dengan harapan bisa ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi, dalam hal ini Pak Bupati Sukabumi,” pungkasnya. (den/d)





