Saat ini, pemerintah Desa Kertaangsana bersama relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kecamatan Nyalindung, tengah melakukan musyawarah dengan warga terdampak.
Hal ini dimaksudkan selain untuk mencari penyebab terjadinya pergeseran tanah juga untuk mengantisipasi terjadinya bencana susulan. “Untuk sementara waktu, lahan pesawahan yang berada di sekitar lokasi pergerakan tanah akan dikeringkan supaya mengurangi resiko,” imbuhnya.
Untuk memaksimalkan pengolahan sumber daya alam (SDA) di sekrtor pertanian padi di wilayah yang tengah dipimpinnya itu, maka pemerintah Desa Kertaangsana bekerjasama dengan BPBD akan memasang pipa untuk mendistribusikan air ke lahan pesawahan warga.
“Saat ini, seluruh warga terdampak dari pergerakan tanah ini, belum dievakuasi ke tempat lebih aman. Kami masih menunggu instruksi dari BPBD dan intansi lainnya,” ujarnya.
Seorang warga setempat, Jaenudin (45) mengatakan, ia mengetahui adanya pergerakan tanah itu saat hendak keluar dari kamar tidur. ” Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu tidak bisa dibuka. Setelah saya lihat bagian dindingnya, ternyata terdapat retakan cukup panjang,” kata Jaenudin.
Setelah mengetahui kejadian tersebut, Jaenudin langsung melaporkannya kepada Ketua RT dan bersama-sama memeriksa sekitar pemukiman penduduk.
“Kaya menemukan retakan tanah sangat besar di sawah yang tidak jauh dari lingkungan penduduk. Bahkan ada juga jalan yang anjlok,” pungkasnya.
Sementara itu, BPBD Kabupaten Sukabumi mengklaim sudah melayangkan surat ke Badan Geologi untuk dilakukan kajian lahan di kampung tersebut.
“Suratnya sudah kita kirimkan ke Badan Geologi. Bahkan melalui telepon sudah lebih awal,” jelas Kabid kedaruratan dan logistik BPBD Kabupaten Sukabumi, Maman Suherman kepada Radar Sukabumi melalui telepon selularnya. (Den/d)






