“Kami sudah menyalurkan air bersih kepad setiap kecamatan yang menjadi dampak kekeringan,” tuturnya.
Lebih lanjut dirinya menambahkan, BPBD memberikan bantuan air bersih itu secara bergantian. Ke depan, bantuan tersebut dapat didistribusikan kepada semua kecamatan yang membutuhkan bantuan air bersih ini.
“Sehingga ke depan semua warga bisa mendapatkan pasokan air bersih secara merata,” pungkasnya.
Ditempat terpisah salah satu kecamatan yang terdampak kekeringan adalah Kecamatan Gegerbitung, tercatat ada ribuan kepala keluarga (KK) yang mengalami krisis air bersih. Warga yang mengalami krisis air bersih ini, diantaranya, Desa Gegerbitung, Karangjaya, Ciengang dan Desa Cijurey.
“Sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir, warga disini mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Hal ini, terjadi karena mata air maupun sumur warga yang biasa digunakan untuk keperluan mencuci dan MCK, kondisinya sudah mengering,” jelas Tokoh Ulama, Asep Saepuloh (45) warga Desa/Kecamatan Gegerbitung, kepada Radar Sukabumi, kemarin (14/8).
Saat ini, ribuan warga di empat desa tersebut sudah kelabakan mencari sumber mata air. Soalnya, sumber mata air yang ada sudah mengering dan kini membutuhkan bantuan air bersih untuk di konsumsi sehari-hari. Untuk mendapatkan air bersih, warga setiap hari harus rela berjalan ratusan meter untuk mendatangi sumber mata air bersih yang melewati kebun dan jalan yang terjal serta berliku.
Mereka mengambil mata air yang bersumber dari serapan akar pohon bambu yang lokasinya cukup jauh dengan pemukiman warga. “Kalau tidak ke kebun, warga disini suka mengambil air dan mencuci pakaian ke sungai,” bebernya.





