“Hak dan Bathil belum jelas, masyarakat nelayan akan berjuang sampai titik darah penghabisan, demi keberlangsungan hidup manusia, demi kehidupan keluarga. Silahkan para pejabat dan aparat disana anda berdebat soal hukum, makan anak dan istri nelayan tidak mungkin menunggu perdebatan anda,” tegasnya.
“Sangat ironis, ketika tuhan menganugrahkan potensi benur agar masyarakat nelayan dan pelaku usaha benur sejahtera. Kok yang terjadi malah bencana dan musibah mereka (para pelaku usaha benur) jadi tersangka,” jelasnya.
Menurutnya, ketidak mau mengertian Aparatur Pemerintahan adalah suatu kedholiman bagi nelayan, kami yakin di dalam kelestarian ada kesejahteraan. “Mari tim riset terkait benur saya tunggu di Kabupaten Sukabumi, untuk membedah kasus yang sebenarnya. Yaitu Kelestarian,” tandasnya.(cr1/d)





