APINDO Kabupaten Sukabumi Geruduk Kantor BPJS

APINDO Kabupaten Sukabumi Geruduk Kantor BPJS
DPK Apindo Kabupaten Sukabumi, saat audensi bersama BPJS Kesehatan Sukabumi di ruas Jalan Raya Siliwangi, Kota Sukabumi pada Kamis (11/07).

SUKABUMI – Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kabupaten Sukabumi, menggeruduk kantor BPJS Kesehatan di ruas Jalan Raya Siliwangi, Nomor 120-122 Kota Sukabumi pada Kamis (11/07).

Kedatangan DPK APINDO Kabupaten Sukabumi ke kantor BPJS Ketenangakerjaan ini, untuk melakukan audensi bersama Kepala Kantor BPJS Kesehatan Sukabumi, Wasnaker Provinsi Jawa Barat, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi dan Disnakertrans Kabupaten Sukabumi, dengan agenda permasalahan pelayanan kesehatan dan penagihan iuran peserta BPJS Kesehatan pada perusahaan swasta di Kabupaten Sukabumi.

Bacaan Lainnya

Ketua DPK APINDO Kabupaten Sukabumi, Sudarno kepada Radar Sukabumi mengatakan, pertama ia ingin menyampaikan sebuah situasi dan kondisi perusahaan sektor industri padat karya di wilayah Kabupaten Sukabumi ini, masih belum baik-baik saja. Karena, ordernya masih belum optimal atau masih belum stabil.

“Hal itu, merupakan dampak dari pasca pandemi Covid-19 dan pasca resesi ekonomi global. Sehingga, masih belum stabil dan pulih ordernya seperti sediakala,” kata Sudarno kepada Radar Sukabumi pada Kamis (11/07).

Selain itu, pada audensi tersebut pihaknya juga telah menyampaikan kepada pihak BPJS Kesehatan apabila perusahaan-perusahaan di Kabupaten Sukabumi ada persoalan kepesertaan atau apapun, agar dikomunikasikan atau di koordinasikan secara humanis atau dinamis.

“Jangan disampaikan secara arogansi, karena BPJS ini sebagai penyelenggara jaminan sosial, bukan sebagai lembaga eksekutor dari aturan, atau bukan berfungsi sebagai tukang tagih saja, tapi harus lebih komunikatif, koordinatif dengan para pengusaha,” tandasnya.

Bukan hanya itu, DPK APINDO Kabupaten Sukabumi juga menyampaikan masih banyaknya keluhan dari para karyawan yang merupakan peserta BPJS Kesehatan yang mendapatkan pelayanan di faskes, khususnya di rumah sakit – rumah sakit yang masih belum maksimal.

“Iya, contohnya antrian panjang, kemudian kalau masuk rumah sakit biasanya alasannya kamar penuh, tapi tidak diberikan solusi harus di rawat dimana, dan di rujuk ke rumah sakit mana,” imbuhnya.

“Iya, sehingga kasihan pasiennya dan mereka bingung kesana kemari mencari rumah sakit yang bisa menerima pasien BPJS Kesehatan,” paparnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *