KABUPATEN SUKABUMI

Alasan Warga Gegerbitung Protes Pembangunan Kandang Ayam

×

Alasan Warga Gegerbitung Protes Pembangunan Kandang Ayam

Sebarkan artikel ini
DI PROTES : Pemerintah Desa Gegerbitung bersama Babinsa dan Bhabinkamtibmas Desa Gegerbitung saat meninjau lokasi sungai Cigeger dan sawah yang terdampak dari longsoran PT MKP.

“Selain itu, daerah sini dari dulu sempat terjadi beberapa kali longsor, baik yang longsor besar sekitar pada tahun 1950-an maupun tahun 1972 sampai memakan korban jiwa dan disana lagi ada satu kampung warganya mulai dipindahkan karena tanahnya mulai bergerak, untuk antisipasi tanah itu sempat di relokasi. Nah di atas tempat itu, di puncak bukitnya dilakukan cut and fil oleh PT Male. Jadi sekarang ini yang ditakutkan oleh warga Gegerbitung ada penurunan permukaan tanah akibat dari kegiatan cut and fill PT Male itu,” tandasnya.

Bank bjb Tandamata

Ketua RW 05 di Kampung Pasir Dulang, Kedusunan Bongas, Desa/Kecamatan Gegerbitung, Deni Supriadi mengatakan, dampak longsoran dari PT Male itu, telah menyebabkan lahan pertanian di wilayah tersebut, terancam gagal panen. “Iya, karena lumpurnya masuk ke aliran sungai hingga ke lahan pesawahan warga,” jelasnya.

Apabila tidak segera ditanggulangi, ujar Deni, maka dampak dari pada pertaninan padi, dapat dipastikan hasilnya tidak akan maksimal. “Iya, kalau dulu di lahan pesawahan ini, hasilnya lumayan cukup bagus. Tetapi sekarang dapat dipastikan hasilnya akan berkurang, karena lumpurnya itu masuk ke area pesawahan warga,” imbuhnya.

Pihaknya menambahkan, saat ini warga di Kedusunan Bongas, khususnya di Kampung Pasir Dulang, tengah merasa khawatir terjadinya bencana longsor susulan dari kegiatan cut and fill PT Male itu. Karena, lokasi perusahaan tersebut berada di atas pemukiman penduduk. “Ada sekitar 300 sampai 400 jiwa yang ada di RW Kampung Pasir Dulang. Mereka dikhawatirkan terdampak dari kegiatan perusahaan itu karena lokasinya berada di bawah perusahaan PT Male. Iya, rumah penduduk di sini lokasinya berada di kaki bukit Gunung Pasir Dulang atau tebing dan terancam akan longsoran sekitar 150 rumah,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Gegerbitung, Dedi Saefulrohman mengatakan, pihaknya membenarkan terkiat longsoran dari aktivitas PT Male itu, telah menuai protes dari warganya. Lantaran, material lonsoran berupa tanah dan bebatuan itu, telah menerjang aliran sungai dan lahan pesawahan warga. “Luas wialayah pertanian di Desa Gegerbitung itu, ada sekitar 270 hetktare. Namun, kalau sungai Cigeger yang tercemar dari longsoran PT Male itu, untuk mengailiri lahan pertanian sekitar 250 hektare,” jelasnya.

Akibat longsoran itu, ujar Dedi, tanaman padi yang baru di cocok tanam, kadarnya telah menjadi panas dan dedaunan padinya banyak yang pirang. Sehingga bisa menimbulkan kematian dan terancam gagal panen. “Kalau untuk luasan terancam gagal panen, saya belum mengetahui karena belum dilakukan pendataan, nanti akan kita bentuk tim berapa hektare yang telah mengalami gagal panen akibat dari bencana ini,” paparnya.

Sebab itu, peristiwa ini perlu perhatian dari seluruh stakehoalder untuk mencari solusi yang terbaik. Pihaknya juga tidak memungkiri, bahwa membutuhkan investor dalam rangka perluasan untuk penyerapan tenaga kerja. Tetapi imbas dari hasil pada pembangunan cut and fill itu, harus diselesaikan dengan baik. “Iya, solusianya harus ada. Seperti larian air hujan itu, harus dibangun. Sehingga tidak mencemari lingkungan. Selain itu, harus ada penetralisir air untuke kebutuhan masyarakat, seperti air dari gunungnya keruh, mungkin untuk dilakukan penetralisir airnya, bisa jernih,” bebernya.