Dialog itu bahkan sudah dilakukan Mega saat masih berada di Merry College dengan para muridnya di Sidoarjo. “Tapi, itu baru ‘pemanasan’ hehehe. Nanti kami adakan lagi karena kami punya banyak proyek yang disiapkan untuk partnership tahun ini,”ujarnya.
Salah satu yang sangat ingin segera diterapkan Felix Satrio, rekan satu cohort Mega, di sekolahnya adalah model pendampingan para guru. “Di sini (Australia) guru hanya menyampaikan materi paling 10-15 menit.
Setelah itu para murid dibagi dalam kelompok untuk berdiskusi dan guru selalu mendampingi kelompok para murid yang kemampuannya paling rendah,” jelas guru di SD Budi Utama, Jogjakarta, itu.
Dengan demikian, lanjut Felix yang ditempatkan di Heany Park Primary School, Victoria, diskusi di kelas bisa berjalan lancar. Semua murid jadi berani untuk bertanya. Atau menyampaikan pendapat. “Dari situ mereka jadi terlatih untuk berpikir kritis,” katanya.
Dan, terlatih pula untuk berbeda pendapat tanpa harus gontok-gontokan. Sebuah fondasi kuat penghormatan kepada segala yang beda yang selama dua pekan telah dirasakan Khalif, Rabiatul, Mega, Felix, dan kawan-kawan guru mereka yang lain.
(*/c5/ttg)



