Featured

Ragam Pengalaman Para Guru Indonesia yang Mengajar di Australia

×

Ragam Pengalaman Para Guru Indonesia yang Mengajar di Australia

Sebarkan artikel ini

BRIDGE dalam nama resmi ditulis kapital untuk menekankan tujuan diadakannya program itu. Yakni, Building Relationships through Intercultural Dialogue and Growing Engagement (Membangun Kerja Sama Melalui Dialog Lintas Budaya dan Hubungan yang Terus Berkembang).

Dialog yang dimaksudkan di BRIDGE itu tentu saja termasuk di dalam kelas. Mega Dwiantari, peserta yang berasal dari sekolah yang sama dengan Khalif, misalnya, sempat mendongeng tentang beberapa kisah tradisional Indonesia. Di antaranya, Bawang Merah-Bawang Putih dan Jaka Tarub.

Bank bjb Tandamata

“Para murid juga sangat antusias mendengar dan bertanya. Di pelajaran apa pun, mereka selalu aktif bertanya,” ungkap guru SMP Progresif Bumi Shalawat yang juga ditempatkan di Merry College itu.

Ada murid di Urangan State High School, tempat Aidil Fitri ditempatkan, misalnya, yang bertanya, apa di Indonesia ada mobil? “Ada pula yang nanya, di Indonesia siswanya belajar pakai kursi nggak? Tentu nggak bermaksud apa-apa, murni karena tidak tahu,” kata Aidil, satu di antara tiga guru pria yang menjadi peserta di cohort 1 tahun ini.

Ketidaktahuan itu pun, lanjut guru di Ponpes Modern Darul Istiqamah, Barabai, Kalimantan Selatan, tersebut, bukan karena mereka tak pernah berkunjung ke Indonesia.

“Kalau ditanya, siapa yang pernah ke Bali, mayoritas mengangkat tangan. Hanya, banyak di antara mereka yang nggak tahu bahwa Bali itu bagian dari Indonesia,” jelas Aidil.