Kemudian, sampah elektronik dipilah berdasar kategori. Ponsel, misalnya. Komponen kaca disatukan dengan kaca, plastik dengan plastik, dan kabel dengan kabel. Lantas, komponen tersebut didaur ulang sehingga menjadi bahan dasar. Nah, dari e-waste dropbox, yang paling banyak dikumpulkan masyarakat adalah baterai.
Baterai juga memiliki dampak paling berbahaya. Karena itu, RJ kemudian mengulasnya secara spesifik di buku kedua, Sampah Baterai, yang dirilis pada awal Juli lalu. ”Kebanyakan didiemin di laci atau lemari, baterai pasti leaking (bocor, Red),” kata RJ, mencontohkan.
Dia pernah menjajalnya. Baterai yang sudah leaking dimasukkan ke stoples yang berisi ikan. Tidak sampai 40 menit, ikan itu mati. RJ juga melakukan uji coba dengan meletakkan baterai tersebut di dekat tanaman. ”Dalam seminggu, tanamannya sudah layu,” ucapnya. Bagaimana kalau sampai mengontaminasi manusia?
RJ menyusun buku kedua itu saat duduk di kelas IX, ketika hampir lulus dari SMP Labschool Kebayoran. Tidak lama, perlu waktu 2–3 bulan. Kini RJ memulai hari-hari awalnya sebagai pelajar SMA Taruna Nusantara, Magelang. Untuk memantau e-waste dropbox di beberapa titik Jakarta, ada empat anggota tim yang membantu.
Dia berharap kesadaran masyarakat akan bahaya sampah elektronik meningkat. Dengan begitu, ke depan, makin banyak yang melakukan hal serupa. Saat ini komunitas e-waste sudah ada di Manado, Jogjakarta, dan Palembang.
Dari sudut pandangnya, pemuda harus bisa menyuarakan hal-hal positif. ”Saya merasa harus berkontribusi. Nggak mau duduk-duduk doang sampai dunia ini hancur,” ungkap remaja yang bercita-cita menjadi menteri lingkungan hidup atau menteri luar negeri itu.



