Murtini, warga Kampung Pinang, Kelurahan Pinang, Tangerang Selatan nekad berkeliling Indonesia hanya untuk mengetahui pelayanan instansi pemerintah daerah terhadap kaum disabilitas. Belum lama ini, wanita yang lahir pada 59 tahun silam di Palembang ini menyambangi Kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Sukabumi untuk meminta stempel dan tanda tangan.
Seperti apa perjuangannya?
Laporan: Lupi Pajar Hernawan, Cibadak
Sejak tahun 2007 lalu, wanita yang mengaku sebagai dosen di Universitas Negeri Riau (UNRI) ini mulai melakukan perjalanannya dari Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam sampai Merauke.
Tak ada yang ia cari selain ingin mengetahui pelayanan pemerintah terhadap kaum disabilitas. Tak heran, jika aksi nekadnya ini mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia-Dunia (Muri).
Ia tercatat, sebagai disabilitas yang berhasil mendatangi puluhan pemerintah daerah untuk mengumpulkan cap dan tanda tangan.
Pada Rabu (29/11) lalu, Murtini mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Sukabumi di Jalan Karangtengah, Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak.
Dengan mengenakan hijab hitam yang dipadukan dengan gamis merah muda, wanita paruh baya itu diantar oleh anggota Koramil Cibadak.
Sesekali terlihat senyum merekah dari raut wajahnya yang mulai keriput.
“Saya Murtini, datang ke sini bermaksud untuk menemui Kepala Kejaksaan,” ucap Murtini kepada Satuan Pengamanan (Satpam) Kejaksaan.
Dengan nada lirih, wanita kelahiran Palembang ini mengaku ingin bertemu dengan Kepala Kejari Kabupaten Sukabumi untuk mengetahui pelayanan lembaga adhyaksa ini kepada warga yang menyandang disabilitas.
Ya, hal itu ia anggap sebuah kaharusan karena tidak sedikit pegawai pemerintah yang ‘menyepelekan’ disabilitas khususnya tuna netra.
“Saya ingin tahu bagaimana perlakuan lembaga ini kepada penyandang disabilitas.
Apakah dipelakukan sama seperti orang normal lainnya,” ujar Murtini kepada Radar Sukabumi.
Murtini mengaku, saat ini menjadi agendanya keliling di pemerintah daerah yang ada di Jawa Barat, seperti Kabupaten Sukabumi.
Sebelum menginjakan kakinya di kabupaten terluas kedua di Jawa dan Bali ini, ia mengaku telah berkeliling daerah di wilayah Indonesia.
“Sekarang jadwal keliling di Jawa Barat, salah satunya Sukabumi.
Ini juga saya lakukan dalam rangka mendapatkan gelar profesor,” terang Murtini yang mengaku sebagai istrinya tentara ini.
Untuk bekal selama di perjalanan, Murtini mengaku telah menyiapkan uang sebesar Rp200 juta yang disimpan dalam buku tabungannya.
Bila ia tengah membutuhkan, dirinya akan mengambil di mesin ATM yang dibantu petugas bank.
“Saya terkadang tidur di hotel atau di penginapan, keinginan saya melakukan perjalanan keliling Indonesia sebenarnya tidak disetujui oleh keluarga,” bebernya.
Dari hasil beberapa kunjungannya ke kantor-kantor, tidak seluruhnya dapat memberikan pelayanan yang baik terhadap penyandang tunanetra.
Atas fakta demikian, dirinya menyarankan agar pemerintah setempat berbenah diri dan segera melakukan perbaikan pelayanan.
“Kalau di kantor Kejari Kabupaten Sukabumi ini sudah cukup baik, saya dilayani dengan sepenuh hati,” jelasnya.
Sebelum beranjak pulang, Murtini sempat menceritakan tentang penyebab kebutaan yang dia alami.
Dari ceritanya, ia menjadi tunanetra akibat kecelakaan pada tahun 2004 silam di Puncak, Bogor, Jawa Barat saat kendaraan yang ditumpanginya terlibat Lakalantas bersama dosen di kampusnya yang hendak mengisi kegiatan seminar.
“Kecelakaan itu cukup parah, tapi baiknya ini menjadi hikmah untuk saya yang harus ikut peduli bahwa penyandang tunanetra memiliki hak yang sama,” pungkasnya. (*/t)



