Pengelola kebun memberikan sambutan istimewa kepada CJH Indonesia. Pengunjung yang baru datang langsung disambut Suliman Hashim Hamdan, salah seorang kerabat Abdurrahman. Dia membagi-bagikan air mineral gratis. “Halal, halal, halal..!” serunya sambil membagikan botol air mineral berukuran 330 mililiter. Semula banyak yang mengabaikan tawaran itu. Suliman tak kehilangan akal. Dia lalu mengubah kalimat seruannya. “Gratis, gratis, gratis..!” Barulah jamaah haji Indonesia berebut datang.
Di dalam gedung yang mirip dengan pujasera itu, beberapa karyawan mahir berbahasa Indonesia. Mereka berteriak mempromosikan dagangan. Sekilas seperti suasana pasar tradisional di Indonesia. “Murah, murah, cuci gudang, cuci gudang. Ayo ke sini, Bapak, Ibu,” teriak mereka.Menurut Rofik, petugas haji yang bermukim di Saudi, harga kurma di sana sebenarnya tidak murah. “Lebih murah beli di Pasar Madinah,” katanya.
Kurma almon, misalnya. Di sana harga per kilogramnya mencapai 40 riyal atau Rp 152 ribu dengan kurs 1 riyal Rp 3.800. Padahal, di pasar harganya hanya sekitar 35 riyal. Bahkan bisa lebih murah jika pembeli pandai menawar. Beberapa jamaah sebenarnya tahu akan hal itu. Namun, mereka tidak peduli. Yang penting bisa membeli kurma langsung dari kebunnya di Arab Saudi. “Kayaknya lebih murah di Tanah Abang. Tapi, nggak papa deh, mumpung lagi di Saudi,” kata Siti Munawaroh, CJH dari embarkasi Jakarta.
Setiap rombongan bus haji diberi waktu 30 menit untuk berbelanja. Ada pemandangan menarik setiap bus yang mengangkut CJH datang. Biasanya, CJH yang turun dari bus hanya menenteng dompet. Namun, saat tiba waktu kembali ke bus, semua terlihat membawa dua atau tiga kresek besar yang berisi kurma. Bus pun menjadi lebih sesak. Kebun kurma itu juga melayani pengiriman ke luar negeri. Pembeli yang ingin memaketkan belanjaan ke Indonesia bisa langsung diproses di sana. Namun, layanan itu khusus untuk pembelian dalam jumlah besar.
Abdurrahman, sang pemilik kebun, mengatakan bahwa kebun kurma tersebut merupakan usaha turun-temurun keluarganya. “Kebun ini ada sejak 110 tahun lalu. Saya punya 20-an kebun di tempat lain,” ujar Abdurrahman dalam bahasa Arab yang diterjemahkan oleh Rofik.
Panen kebun kurmanya setahun sekali, setiap mendekati musim haji. Menurut dia, kebunnya memiliki 30-an jenis kurma. Di antara semua jenis tersebut, jamaah haji Indonesia paling senang memborong kurma ajwa. Karena itu, dia senang melayani jamaah asal Indonesia. Dalam sehari bisa sampai 5 ton kurma di kebunnya yang diborong jamaah Indonesia.



