Pada masanya dulu, bagian bawah rumah panggung Melayu dibiarkan begitu saja. Namun, sekarang kebanyakan bagian bawah sudah ditembok. Lalu dijadikan ruang keluarga, bahkan disewakan untuk kamar kos atau kontrakan.
Perubahan itu sekaligus menandai perubahan lanskap kampung-kampung khas Melayu, etnis mayoritas di Malaysia. Mengutip Biro Statistik Malaysia, per 2017 etnis Melayu mencapai 68,8 persen.
Namun, di ibu kota Kuala Lumpur, keberadaan kampung-kampung Melayu dengan ciri khas rumah-rumah panggung tradisional terus tergusur derap modernitas. Kampung Kerinchi dan Kampung Abdullah Hukum contohnya. Kampung Bharu bisa dibilang sebagai the last man standing. Kampung itu hanya berjarak sekitar 800 meter dari Menara Kembar Petronas, ikon kebanggaan Malaysia.
Menjangkau kampung itu tidak terlalu sulit. Dari Stasiun KL Sentral, bisa menggunakan LRT (Rapid KL) ke arah Gombak. Kemudian turun di Stasiun Kampung Bharu. Jika dihitung dari stasiun KL Sentral, jaraknya hanya empat stasiun.
Dari Stasiun LRT Kampung Bharu, tinggal jalan kaki sekitar 1 km. Patokannya, berjalan ke arah Masjid Jami Kampung Bharu. Posisi permukiman warga Melayu di Kampung Bharu memanjang, mengikuti Jalan Raja Muda Musa selepas rumah susun (rusun) Kampung Bharu.
Menurut beberapa literatur, banyak tokoh terkenal yang lahir dari Kampung Bharu. Di antaranya, penyanyi legendaris Malaysia S.M. Salim. Kemudian, Dato Seri Suleiman Mohamad yang pernah menjadi wakil menteri penerangan. Safar pernah mendengar cerita bahwa rumah cikgu yang menghadap ke utara itu sudah berumur 104 tahun. ”Awalnya, dulu daerah sini hutan,” katanya.




