Featured

Melihat Strategi Hit dan Run Pejuang Bojong Kokosan

×

Melihat Strategi Hit dan Run Pejuang Bojong Kokosan

Sebarkan artikel ini

Laporan selanjutnya menyatakan bahwa, jumlah iring-iringan konvoy sekitar 150 buah truk, dikawal oleh 1 batalyon serdadu Sekutu, dimulai dengan tank-tank Sherman, sebagai kawal depan, kemudian sejumlah kendaraan berlapis baja, selanjutnya iring-iringan truk, dan diselang-seling dengan kendaraan-kendaraan brencarrier.

Komandan Resimen 3 TKR, memerintahkan, agar pos-pos Cigombong dan Cicurug tidak menyerang terlebih dahulu, sebelum kawal depan konvoy memasuki daerah “ killing ground “, ialah daerah perbukitan Bojong Kokosan. Dengan maksud, bahwa setelah kepalanya dipukul baru badannya diserang, diberbagai daerah.

Bank bjb Tandamata

Di daerah Bojong Kokosan, konvoy dihadang dengan barikade pepohonan yang malang melintang di tengah jalan. Tank-tank Sherman mencoba mendorong-dorong rintangan.  Tank pertama terperosok masuk kedalam lubang jebakan, maka terdengarlah ledakan ranjau darat, dan rantai-rantai roda tankpun lepas terburai.

Iring-iringan konvoy dibagian dibelakang memberhentikan, kendaraannya secara mendadak, maka terjadilah tabrakan-tabrakan beruntun. Susunan konvoy menjadi kacau balau, tidak terkendalikan lagi. Maka pada momen inilah, serangan penyergapan dimulai. Tembakan-tembakan gencar dilakukan dari tebing-tebing di kiri-kanan jalan, menyambut serdadu-serdadu Sekutu yang berloncatan turun dari atas truk.

Mereka berusaha menyusun formasi tempur, akan tetapi terus-menerus dihujani granat dan bom-bom molotov. Bagian tengah konvoy tidak bisa bergerak maju, tertahan oleh bagian depan yang sedang menghadapi sergapan serentak dari prajurit-prajurit TKR dan Barisan Pejuang Rakyat. Mereka berusaha bergerak mundur, namun terhambat pula oleh bagian ekor yang baru sampai di Cigombong. Akhirnya susunan konvoy yang panjangnya kurang lebih 12 KM itu terpenggal-penggal menjadi beberapa bagian.

Sementara serdadu-serdadu Tentara Sekutu dari Batalyon Jats yang mengawal konvoy tersebut terus menerus ditembaki dari tebing-tebing pinggir jalan, bahkan anak-anak panah dan kelereng sebagai peluru, ketepelpun ikut berperan menghujani serdadu-serdadu musuh, dalam peristiwa penyergapan tersebut.