Featured

Melihat Strategi Hit dan Run Pejuang Bojong Kokosan

×

Melihat Strategi Hit dan Run Pejuang Bojong Kokosan

Sebarkan artikel ini

Seruan pribadi dari para pejuang di Bandung ini segera mendapat tanggapan dari teman-teman seperjuangannya, terutama yang berada di wilayah kekuasaan Resimen – 3 TKR, yang membentang melalui jalan raya Bogor-Sukabumi-Cianjur.

Rencana penghadangan dimulai dengan pemasangan rintangan-rintangan untuk menghambat gerak laju rombongan, ditempat-tempat yang bisa menguntungkan untuk melakukan penyergapan. Sepanjang jalan raya yang berkelok-kelok tajam, dan naik turun antara Cicurug-Bojong Kokosan-Parungkuda, juga disisi kanan-kiri jalan terdapat tebing-tebing yang cukup terjal. Maka kondisi medan yang demikian ini, akan sangat menguntungkan untuk melakukan penyergapan. Lebih-lebih lagi pada saat itu daerah ini masih merupakan hutan belukar.

Bank bjb Tandamata

Di daerah ini dipasang barikade dengan menumbangkan pohon-pohon pelindung yang besar-besar dipinggir jalan, dipasang saling melintang, untuk merintani jalannya kendaraan-kendaraan. Sedangkan pada tempat-tempat tertentu, digali lubang-lubang yang besar- besar, yang cukup dalam untuk dijadikan perangkap kendaraan tank dan lais baja. Pada dasar lubang-lubang tersebut dipasangi juga ranjau-ranjau darat yang dapat melumpuhkan kendaraan lapis baja dan tank.

“Di atas tebing disisi kanan-kiri jalan dibuat pula lubang-lubang perlindungan bagi para prajurit yang akan melakukan penyerangan, secara serentak pada waktunya. Mereka dipersenjatai dengan senjata-senjata api seadanya, termasuk granat-granat tangan dan bom-bom Molotov, hasil buatan pabrik senjata Braat milik Resimen 3 sendiri di Sukabumi, dibawah pimpinan Kapten Saleh Norman, “jelasnya.

Karena persediaan amunisi terbatas, maka tidak mungkin untuk bisa melayani dan menangkis serangan balas dari musuh, secara frontal dalam waktu yang cukup lama. Rencana penyergapan akan dilakukan dengan taktik “ Hit and run “. Sergap dan hancurkan, pada kesempatan yang paling baik, dan segera menghilang untuk menghemat senjata, hemat pasukan, aman dan menang.

Hari Minggu tanggal 9 Desember 1945, Kapten Achmad Kosasih Kepala Bagian Siasat Resimen 3 di Jl. Kerkhof Sukabumi bersama Komandan Resimen dan Dokter Resimen, ialah Dr. Hasan Sadikin. Saat itu dikejutkan dengan dering telefon dari Pos Cigombong, Komandan Pos Cigombong melaporkan bahwa : “ Dua tank Sherman kawal depan konvoy Tentara Sekutu, telah memasuki Cigombong ”.