Asti sudah setahun belajar bahasa Indonesia. Meskipun gaya bicaranya masih kaku, tampak jelas penguasaan kosakatanya semakin baik. Gadis 19 tahun itu juga tampak berupaya membalas obrolan dengan bahasa Indonesia.
Mahasiswa tingkat pertama tersebut sudah pernah datang ke Indonesia pada Agustus lalu. Saat itu dia dan sejumlah temannya berlibur ke sejumlah kota di Jawa dan Bali. ”Ke Jakarta, Bandung, Jogjakarta, dan saya juga pernah ke Bali. Di Bali saya tinggal di Ubud,” jelasnya. Penguasaan terhadap kosakata Indonesia sehari-hari cukup membantu selama dia berlibur.
Mahasiswi asal Tambov, Rusia, itu menerangkan, di jurusan bahasa Indonesia itu dirinya mengambil studi ilmu politik. Hanya, dia merasa masih kesulitan untuk memahami istilah-istilah politik. ”Tapi, saya senang karena bahasa Indonesia itu unik,” lanjut gadis berambut cokelat tersebut.
Di Rusia, ungkap Asti, tidak banyak perempuan yang berkarir di bidang politik. Karena itu, dia mengaku sempat bingung akan bekerja di mana bila lulus kuliah nanti. Yang membuat Asti tertarik dengan ilmu politik adalah dirinya bisa mempelajari hubungan antara Rusia dan Indonesia. ”Sejarah Indonesia juga menarik dipelajari,” ucapnya.
Asti masuk jurusan bahasa Indonesia karena dorongan sang ayah. Awalnya dia justru lebih tertarik belajar bahasa Mandarin. ”Tapi, ayah saya mau saya belajar bahasa Indonesia,” tambahnya. Sang ayah sangat menyukai Indonesia meskipun tidak bisa berbahasa Indonesia dan belum pernah datang ke Indonesia. Setelah beberapa kali mengikuti kelas, Asti akhirnya makin menyukai pengalaman barunya itu.
Untuk meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Indonesia, KBRI Moskow sudah mendapat bantuan pengajar bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) dari Kemendikbud. Pada semester kali ini, yang datang untuk mengajar di Institut Negeri-Negeri Asia dan Afrika adalah Hilda Septriani. Sehari-hari Hilda adalah dosen Universitas Padjadjaran Bandung.




