Meskipun demikian, beberapa tahun belakangan peminat bahasa Indonesia menurun. ”Bahkan, saya dengar hampir ditutup itu (kelasnya),” terang Dubes RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarusia Mohamad Wahid Supriyadi. Itu terjadi di awal penugasan Wahid pada Maret 2016. Pihaknya pun memutar otak agar minat masyarakat Rusia terhadap bahasa Indonesia kembali meningkat.
Akhirnya, di tahun yang sama, KBRI menggelar Festival Indonesia. Tepatnya pada Agustus 2016. ”Itu sudah bisa menarik minat orang untuk mulai mengetahui dan belajar tentang Indonesia,” lanjutnya.
Pada tahun pertama, festival tersebut sudah bisa menarik minat 68 ribu pengunjung selama dua hari. Tahun berikutnya, KBRI Moskow kembali menggelar festival serupa dan didatangi 90 ribu pengunjung. Tahun ini pihaknya pindah ke taman yang lebih besar dengan luas 16,5 hektare. Total ada 135 ribu pengunjung yang memadati festival yang juga melibatkan UMKM Indonesia itu.
Dari situlah masyarakat Rusia mencari tahu bagaimana cara belajar bahasa Indonesia. Hanya sebagian di antara mereka yang bisa ditampung. Sebab, kelas bahasa tidak boleh diisi banyak siswa. Selain Universitas Negeri Moskow, kelas bahasa Indonesia ada di kompleks KBRI Moskow. Usianya memang belum lama karena mulai dibuka pada 2012.
Sejumlah universitas akhirnya ikut membuka kelas bahasa Indonesia. Misalnya Kazan Federal University. Ada pula Far Eastern Federal University di timur jauh Rusia, yakni Vladivostok, yang berminat untuk segera membuka studi tentang Indonesia.
Kemampuan berbahasa Indonesia, tutur Wahid, memberikan nilai tambah bagi warga Rusia. Bagi mereka yang berminat menjadi diplomat, kemampuan tersebut membuat portofolio menjadi positif. Artinya, mereka benar-benar siap untuk penempatan di Indonesia.




