Tiya pun masuk daftar pertama yang dicari organisasi-organisasi tersebut jika membutuhkan juru bahasa Indonesia. Tiya juga berhak mengetes juru bahasa lain dari Indonesia yang belum tersertifikasi untuk ikut event internasional. Setelah Tiya mengantongi sertifikat, sang kakak, Inanti Pinantikasih Diran, menyusul. Dosen UI itu juga menjadi juru bahasa yang diakui AIIC.
Seperti sang adik, Inanti melewati rute yang sama beratnya untuk akhirnya bisa mendapat sertifikat dari AIIC. Begitu pula dengan Tengku Malinda. Mereka harus menambah jam kerja, meminta surat rekomendasi sampai ke banyak negara, dan meningkatkan kualitas interpretasi mereka.
”Dengan adanya tiga orang ini, maka kebanggaan buat Indonesia karena bahasa kita semakin diakui dunia. Sebab, sekarang PBB dan organisasi-organisasi afiliasinya wajib mem-provide juru bahasa Indonesia kalau di situ ada orang Indonesia yang hadir,” lanjutnya.
Kini Tiya sudah menghadiri banyak konferensi internasional di berbagai negara. Beberapa event bergengsi yang diikutinya adalah G7 Summit Outreach Program di Ise-Shima, Jepang, tahun 2016; ASEAN-Australia Summit di Sydney, Australia, pada Maret lalu; dan tentu saja, pertemuan tahunan IMF-World Bank Group di Bali pertengahan Oktober lalu.
Berbeda dengan Tiya, sang kakak, Inanti Diran, sangat terkesan saat menjadi juru bahasa pada pembukaan Disneyland Hongkong pada 2005. Dia ingat, waktu kecil, dia sangat nge-fans karakter Micky Mouse dan Mini Mouse. Dia ingin bertemu keduanya, tapi tak kunjung kesampaian. ”Eh, pas sudah tua, baru, ketemu di Hongkong. Melihat mereka menari-nari, saya teriak-teriak, aaaaaa… aaaa… Mickey Mouse… Dalam hati, hahahaa,” selorohnya.
Suasana yang ria itu juga tak lantas mudah dilewatinya. Saat itu Inanti menjadi juru bahasa yang otomatis harus langsung menirukan apa yang dikatakan MC acara. Saat Mickey Mouse dan Mini Mouse lewat di depannya, dia tak bisa jingkrak-jingkrak dan teriak. Harus profesional dan menahan ekspresi. Padahal, dalam hati, Inanti menjerit kegirangan. ”Ya, kan mereka lucu, dari kecil saya sudah suka. Tapi, ya susah, saya harus ngomong terus, enggak bisa teriak-teriak kan,” tuturnya.



