Featured

Kakak Beradik Tiya-Inanti Diran

×

Kakak Beradik Tiya-Inanti Diran

Sebarkan artikel ini

Ada yang sistemnya menerjemahkan langsung word by word apa yang disampaikan narasumber. Seperti yang biasa dijumpai dalam berbagai konferensi internasional. Ada yang narasumbernya berbicara dalam beberapa detik, berhenti, diterjemahkan juru bahasa, lantas berbicara lagi. Atau istilahnya juru bahasa konsekutif.

Untuk sampai ke titik yang membawanya ke berbagai ajang bergengsi dan bertemu dengan banyak tokoh dunia itu, jalan yang ditempuh Tiya sungguh tak mudah. Semua bermula dari protes Presiden (ketika itu) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam sejumlah event internasional. Khususnya saat menghadiri Konferensi G20 di Los Cabos, Meksiko, pada 2012.

Bank bjb Tandamata

Presiden kelahiran Pacitan, Jawa Timur, itu mendapat juru bahasa dari panitia yang bisa menerjemahkan bahasa Indonesia, tapi bukan orang Indonesia. Melainkan warga asing yang mempelajari bahasa Indonesia. Alias, bukan native speaker atau penutur asli bahasa Indonesia. ”Yha kawrena juwru bahasanya ngomongnyha seperwtiy iniyw, jhyadinya Pak SBY tcidak mengerwti,” ucap Tiya sambil menirukan logat bule ketika berbicara dalam bahasa Indonesia.

SBY juga protes lantaran mendapat juru bahasa yang hanya bisa bahasa Melayu (Malaysia). Bukan bahasa Indonesia. Menurut Tiya, SBY kecewa karena merasa dunia internasional cenderung asal-asalan dalam memfasilitasi juru bahasa Indonesia.

”Ya, masak juru bahasanya menerjemahkan 7 percent (7%) itu 7 per ratus. Maksudnya sih 7 persen, tapi kan susah juga kita orang Indonesia mengerti bahasa Melayu itu,” lanjut Tiya yang mempunyai nama asli Angistiya Pinakesti tersebut.

Menurut ibu tiga anak itu, tak bisa dimungkiri, hal tersebut terjadi akibat kesalahan orang Indonesia yang selalu bilang, ”Do you speak bahasa?” kepada warga asing. Jadilah dunia internasional memandang bahwa bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia itu sama. Padahal, jelas jauh beda.