Featured

Kakak Beradik Tiya-Inanti Diran

×

Kakak Beradik Tiya-Inanti Diran

Sebarkan artikel ini

SBY pun kemudian meminta Kementerian Luar Negeri yang saat itu dipimpin Marty Natalegawa untuk menyediakan juru bahasa. Yang tak hanya fasih berbahasa Inggris dan Indonesia, tapi juga berasal dari Indonesia dan warga negara Indonesia.

Sejak SBY protes itulah, PBB dan organisasi-organisasi di bawahnya berupaya menyediakan juru bahasa Indonesia. Tapi, PBB cuma mengakui anggota AIIC untuk dapat ikut dalam konferensi internasional. Padahal, belum ada orang Indonesia yang mengantongi sertifikat AIIC.

Bank bjb Tandamata

Tiya yang pernah mengasuh English News Service di TVRI pun tergerak. Mantan MC (master of ceremony) di istana sejak era Presiden Soeharto, B. J. Habibie, serta SBY itu bertekad bisa tersertifikasi oleh AIIC. Agar bahasa Indonesia semakin sering digunakan di konferensi-konferensi internasional.

Namun, persoalannya, syaratnya tak mudah. Tiya harus memiliki jam kerja minimal 500 jam. Dia juga mesti mengantongi surat rekomendasi dari banyak juru bahasa dari negara lain. Para juru bahasa itu, antara lain, penutur asli bahasa Inggris. Ada pula yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris.

”Mereka harus mendengar saya menginterpretasikan orang yang ngomong pakai bahasa Indonesia, saya omongkan lagi pakai bahasa Inggris,” katanya. Selanjutnya, tambah Tiya, kefasihan bahasa Inggris dirinya diteliti. ”Suara saya jelas terdengar atau tidak, konten yang diinterpretasikan juga harus sesuai,” urainya.

Selain itu, Tiya harus mempunyai pengalaman menjadi juru bahasa di berbagai ajang konferensi internasional. Akhirnya, Tiya pun berhasil. Pada 2016 Tiya menjadi juru bahasa pertama dari Indonesia yang diakui AIIC. Artinya, dia telah diakui PBB dan organisasi-organisasi di bawah PBB sebagai juru bahasa profesional.