Featured

Di Rusia Bertemu ”Suwe Ora Jamu” dan ”Pendet”

×

Di Rusia Bertemu ”Suwe Ora Jamu” dan ”Pendet”

Sebarkan artikel ini
FOTOl BAYU PUTRA/JAWA POS BUDAYA INDONESIA: Elisabeth Nur Nilasari bersama Kirana Nusantara Dance saat berlaih menari khas budaya Indonesia.

Karena itu, Rhyzaya pun tanggap saat malam itu Tri mencoba latihan memainkan musik pengiring tari remo. Dari tempatnya nyinden, dia beranjak menuju bonang. Tangannya pun lincah memukul setiap bonang mengikuti irama. Tanpa perlu lagi melihat catatan nada. Setiap nadanya sudah dia hafal di luar kepala.

Ryzhaya mengaku menyukai gamelan sejak 2016. Awalnya, di sela kelas bahasa Indonesia, dia mencoba gamelan dan langsung jatuh cinta. Puncaknya adalah saat ada penampilan gamelan di Festival Indonesia pada Agustus 2016. ’’Tidak lama setelah itu ambassador (Dubes) mengundang guru gamelan. Tentu saja saya langsung bergabung,’’ tuturnya.

Bank bjb Tandamata

Karena pernah berlatih seriosa, Ryzhaya juga mengiyakan tawaran menjadi pesinden. ’’Gugur Gunung. Ayo konco ngayahi karyaning projo,’’ ucap gadis 27 tahun itu saat ditanya apa tembang pertama yang dikenalkan kepada dia.

Menurut Ryzhaya, ada perbedaan musik gamelan dengan musik pada umumnya. Terutama dalam hal sistem notasi. ’’Nada pertama, misalnya, tidak mirip dengan nada do atau re. Jadi, kami harus belajar dari awal,’’ lanjutnya. Musik pada umumnya memiliki tujuh tangga nada dasar, sedangkan gamelan hanya lima atau pentatonik. Kali pertama, dia mengaku sulit mengerti notasinya. Namun, lama-lama dia makin memahami.

Ada satu keinginan mahasiswa S-2 linguistik Moscow State University itu. Dia sangat ingin datang ke Indonesia sebagai pesinden dan pemain gamelan. Bukan sebagai turis seperti sebelumnya. Rhyzaya sudah pernah berkunjung dua kali ke Indonesia. Cirebon, Bandung, Jakarta, Jogjakarta adalah kota-kota yang pernah dia kunjungi. Dan, tentu saja dia juga mampir ke Bali.

Bisa dibilang, Rhyzaya mengikuti perkembangan seni Indonesia secara keseluruhan. Film, misalnya, juga dia ikuti. ’’Saya ingin bertemu Garin Nugroho,’’ tambahnya merujuk kepada nama sutradara ternama Indonesia. Tri Yoko menuturkan, perbedaan bahasa menjadi kendala utama dalam proses pengajaran bermain gamelan. Beruntung, sebagian besar penggawa Gamelan Dadali mampu berbahasa Indonesia meski belum lancar benar.