JAKARTA – Pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), hingga tahun 2019. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan menyebut hal itu dilakukan guna menjaga daya beli masyarakat.
Keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM, berbanding terbalik dengan kenyataan harga minyak mentah yang terus meningkat. Hal ini akan membebani keuangan PT Pertamina (Persero), perusahaan minyak negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan apabila pemerintah tidak menambahkan angka subsidi, maka Pertamina bisa kolaps.
“Kalau harga crude oilnya, ya pasti biaya naik. Pemerintah bisa saja diam tapi bisa kolaps mereka kalau tidak ditambah subsidinya,” jelas Darmin di Senayan JCC, Jakarta, kamis(8/3).
Menaikkan angka subsidi BBM, menurut Darmin adalah konsekuensi yang harus ditanggung oleh pemerintah akibat dari naiknya harga minyak mentah.
“Kalau melampaui jumlahnya, ini sedang dibicarakan, apakah harus RDP atau raker dengan DPR apakah harus melalui APBNP,” jelasnya.
Di sisi lain, Darmin mengatakan meski subsidi dinaikkan akibat adanya kenaikan harga minyak mentah, tetapi penerimaan migas juga diharapkan bisa melampaui target alias surplus.
“Itu konsekuensi logis bahwa subsidi harus naik dengan penerimaan migas yang surplus,” ujarnya.
Sebelumnya, harga Indonesia Crude Price (ICP) berangsur naik, pemerintah berencana akan menambah subsidi untuk BBM jenis Gasoil 48 Biosolar untuk tahun ini. Sedianya, Kementerian ESDM akan menambah subsidi Biosolar menjadi sebesar Rp 700/liter hingga Rp 1000/liter dari jumlah subsidi sebelumnya.
Langkah ini diambil guna merespon pergerakan ICP yang cenderung naik sejak Juni 2017. Data Kementerian ESDM menyebutkan peningkatan ICP sejak Juni 2017 hingga Januari 2018, berturut-turut sebesar USD 43,7 per barel, USD 45,5 per barel, USD 48,4 per barel, USD 52,5 per barel, USD 54,0 per barel, USD 59,3 per barel, USD 60,9 per barel dan USD 65,6 per barel.
Akan tetapi, ICP Februari 2018 mengalami penurunan sebesar USD 3,98 dibandingkan bulan sebelumnya menjadi USD 61,61 per barel.
“Kita cermati terus pergerakan harga minyak tadi. Contohnya seperti ICP Januari 2018 USD 65 per barel tiba-tiba sekarang turun USD 61 per barel dan cenderung turun terus. Nanti kita akan infokan (terus) pergerakannya,” terang Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ego Syahrial di Jakarta.(uji/JPC)




